A Moment to Remember: Ketemu Bernard Batubara!

Akhirnya saya ketemu Bernard Batubara. Bara. Penulis yang selama beberapa bulan belakangan ini rasanya pengen saya samperin tiap ada event di Surabaya. Bahkan bulan kemaren sempet ada acara di Yogyakarta, pas di hari saya juga ada di Kota Gudeg itu. Tapi selalu ada halangan yang bikin saya belum berjodoh buat ketemu dia. Dan akhirnya, di hari Minggu 9 Oktober kemarin, saya benar-benar bisa ketemu Bara di Malang. Iya, Bara datang ke Malang tanpa saya harus repot ke kota orang. Begitulah, jodoh itu memang effortless seharusnya…

Jadi siang hari itu beda banget buat saya. Kalau biasanya hari Minggu saya bakal full di depan laptop, entah itu nulis artikel begini atau maraton nonton drama, kali itu saya udah dandan cantik. Bara ada event diskusi buku terbarunya METAFORA PADMA di Gramedia Basuki Rahmat Malang hari itu. Dan sejam sebelum acara, saya udah sampai di tujuan dengan selamat.

Jujur, seumur hidup baru kali ini saya bener-bener ngejar buat ketemu tokoh idola. Soalnya saya ngerasa nggak pernah ngefans banget sama sosok tertentu. Jadi, waktu itu saya ngerasa lagi menjelma menjadi salah satu fans alay Bara. Semangatnya mungkin sama seperti dedek-dedek gemes yang nggak sabar pengen ketemu Oppa Korea idolanya. Di umur saya yang udah seperempat abad begini, ngefans seperti itu mungkin udah telat ya. Tapi ya gimana, namanya juga lagi seneng.

A Moment to Remember: Ketemu Bernard Batubara!
A Moment to Remember: Ketemu Bernard Batubara!

Sekitar jam 1 siang, akhirnya Bara muncul juga. Diskusinya juga langsung dimulai, yang secara garis besarnya menceritakan METAFORA PADMA secara menyeluruh. Saking excited-nya menyimak, saya jadi tahu beberapa random fact tentang Bara yang terselip lewat obrolan itu. Mulai dari masa kecilnya di daerah konflik yang kemudian jadi inspirasi tema besar dalam METAFORA PADMA itu sendiri.

Waktu mendengar ceritanya, saya jadi ingat masa kecil saya sendiri yang juga jadi ‘saksi’ kerusuhan Mei 1998. Namanya juga anak kecil, waktu itu belum ngerti apa-apa. Cuma dilarang keluar rumah yang bikin saya keheranan sendiri. Sementara orang-orang ramai berseliweran lewat di depan rumah. Saya ingat, saya dalam versi masa kecil berdiri di dekat jendela sambil melihat keluar. Dari situ terlihat asap hitam membumbung tinggi yang saya nggak tahu asalnya dari mana. Lalu tukang becak berbondong-bondong membawa berbagai furnitur, mulai dari lemari, sofa, meja, kursi, sambil berteriak-teriak. Saya nggak paham waktu itu ada apa. Lalu beberapa hari setelahnya ketika akhirnya saya bisa keluar rumah bersama keluarga, saya melihat banyak bangunan yang sudah hangus terbakar. Cerita yang berbau mistis tentang korban kerusuhan pun dimulai.

Baru setelah dewasa, perlahan saya paham dengan apa yang terjadi dengan bangunan hangus yang mendominasi kota saya waktu itu.

Bara juga cerita kalau dia menikmati duduk sendiri di kafe sambil mengamati orang lain. Yang nggak tahu kenapa saya rasa mirip juga dengan kebiasaan yang sering saya lakukan. Dengar Bara cerita seperti itu, saya langsung tertawa dalam hati. Jadi saya bukan satu-satunya orang yang menikmati kegiatan seperti itu seorang diri. Seperti bertemu teman baru dengan latar belakang yang sama. Oke, kalimat sebelumnya mungkin terdengar mulai lebay.

Dan kalau kamu tahu, manusia itu cenderung gampang melakukan kesalahan waktu dia lagi terlalu senang atau terlalu sedih. Mungkin karena kondisi emosional yang ‘terlalu’ ini bikin psikis jadi labil ya. Saya juga gitu sih. Waktu lagi sesi tanya jawab, saya melontarkan pertanyaan yang saya sendiri nggak paham maksudnya. Padahal ada hal lain yang ingin saya tanyakan, dan bakal kedengeran lebih smart ketimbang yang udah terlanjur saya tanya sih. Ya sudahlah, namanya juga lagi grogi. Sebenarnya juga saya hanya memanfaatkan momen supaya bisa berinteraksi sama Bara aja sih.

Pulang dari acara, Malang dilanda hujan yang luar biasa deras. Tapi hati saya lagi cerah banget. Berbekal tiga buku yang ditandatangani Bara dan satu foto selfie bareng, saya udah bahagia aja rasanya. Apalagi beberapa hari sebelum acara, Bara sempat me-retweet mention dari teman saya, Ayu, yang isinya link tulisan saya. Tulisan galau tentang orang-orang yang sedang patah hati. Lalu, gimana saya nggak makin jatuh cinta kalau Bara bilang tulisan saya indah? Hahahaha.

Jadi, terima kasih Bara, karena sudah datang ke Malang walaupun sendirian. Kadang saya iri kalau melihat pengumuman event di kota lain selalu ada tokoh keren lainnya yang menemani. Seperti waktu di Yogyakarta, ada bosnya Mojok yang nyeleneh tapi selalu bikin saya naksir tulisannya, Mas Puthut EA. Atau event di Jakarta dan sekitarnya yang sempat ditemani Eka Kurniawan yang tulisannya masih sering bikin saya gagal paham saking kerennya. Semoga kapan-kapan ada jodoh juga ketemu dengan mereka.

Saya harap sih, semoga ke depannya Bara makin sering main lagi ke Malang. Sampai sekarang saya masih berminat banget buat ikutan kelas membaca atau kelas menulis seperti yang sering diadakan di Surabaya. Iya sih, Malang-Surabaya memang hanya berjarak 2 jam perjalanan, kalau lancar. Tapi seringnya, weekend memang lebih seru dinikmati dengan mager. Lol.

Jadi, itu adalah cerita weekend saya minggu lalu. Terus minggu ini mau ngapain? Entahlah, sampai sekarang saya masih mager di rumah. Sambil cek jadwal INFERNO dan menimbang-nimbang jam berapa yang paling tepat buat ketemuan sama Om Langdon. Nggak usah komen dan tanya mau nonton sama siapa, jawabannya udah pasti sendiri. xD

 

Baca Juga Dong…

Pengalaman Absurd Si Gadis yang Baru Berkacamata

Tips Solo Traveling Anti Nyasar Buat yang Nggak Pernah ke Mana-Mana

Harapan Kegilaan Suicide Squad yang Berujung Patah Hati

Meneruskan Studi, Kebutuhan Akademisi atau Sekadar Gengsi?

4 thoughts on “A Moment to Remember: Ketemu Bernard Batubara!

    1. banyak sih pelajaran yang bisa diambil. tapi salah satu quote yang nancep banget di kepala saya waktu dia bilang, “kalau kita nggak pernah nulis jelek, kita nggak bakal bisa nulis bagus.” inspirasi banget sih buat saya 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *