Beda Xiaomi Garansi Resmi dan Distributor, Pilih yang Mana Dong?

Beda Xiaomi Garansi Resmi dan Distributor, Pilih yang Mana Dong?

Beberapa tahun belakangan, nama Xiaomi mulai diperhitungkan sebagai produsen smartphone. Biarpun tergolong vendor lokal, tapi kualitas yang diusung layak banget bersaing dengan brand raksasa lain. Menawarkan spek gahar tapi harga masuk akal inilah yang bikin ponsel tersebut laris manis seperti kacang.

Tahun 2016 ini misalnya, varian Xiaomi Redmi Note 3 dan Redmi 3 jadi salah satu yang seri yang banyak diincar bagi yang ingin hape baru. Saya sendiri juga salah satu yang terpesona dengan spek Redmi Note 3 yang super (saat itu), karena udah dibekali dengan bodi metal, fingerprint sensor, dan jeroan mumpuni, tapi harganya bahkan nggak sampai 3 juta. Nikmat Xiaomi mana yang bisa kamu dustakan, Nak?

Akhir tahun ini pecinta gadget juga udah dibikin megap-megap dengan jajaran ponsel teranyar Xiaomi, mulai dari Mi5, Mi Mix, sampai Mi Note seri kesekian yang punya keunggulan masing-masing. Tapi, pabrikan yang satu ini cukup ‘bermasalah’ dengan distribusi produknya di Indonesia. Emang sih, di online shop kamu bisa nemu beragam varian Xiaomi yang bisa dipilih sesuka hati. Tapi, tahu nggak kalau produk smartphone-nya yang masuk resmi di Indonesia cuma Mi 4i sama Redmi 2 aja yang dijual lewat situs resmi Xiaomi? Lha, terus produk lainnya yang dijual bebas di online shop itu apa dong?

Beda Xiaomi Garansi Resmi dan Distributor, Pilih yang Mana Dong?
Mi Mix, salah satu pendatang baru Xiaomi yang bakal menggebrak 2017. Foto: xiaomi-mi.com

Seri selain dua smartphone itu ternyata beredar menggunakan garansi distributor. Jadi, di Indonesia itu yang memegang garansi resmi Xiaomi cuma Erajaya atau Erafone. Produk garansi distributor dipegang pihak ketiga yang cuma punya izin distribusi aja. Terus, apa bedanya?

Banyak yang sering tanya sama saya apa bedanya garansi resmi dan distributor Xiaomi. Daripada ribet jelasin satu-satu di orang yang beda, mending posting di blog aja ya biar jelas. Itung-itung promo juga. Hahaha. Jadi, cekidot deh ya!

Garansi Resmi Menyediakan Fasilitas After Sales

Perbedaan pertama yang paling mencolok buat saya sih soal after salesnya. Kalau kamu memegang garansi resmi, sewaktu-waktu hapemu bermasalah soal software atau apapun yang bisa diklaim garansi, tinggal bawa aja ke service center resmi Xiaomi. Sekarang service center Xiaomi juga udah tersebar di kota-kota besar, jadi gampang kalau mau mengajukan klaim.

Kalau yang kamu pegang adalah garansi distributor, jangan ngimpi bisa bawa ke service center resmi, karena udah pasti ditolak. Palingan kamu bawa ke toko tempat beli hape dulu. Nanti dari pihak toko bakal mengirimkan ke distributor buat klaim garansi. Tapi, prosesnya panjang dan lama. Nggak ada jaminan juga hape kamu kembali, apalagi kalau distributornya abal-abal gitu.

Ada Banyak Fitur yang Nggak Berfungsi di Garansi Distributor

Nah ini dia yang mesti kamu tahu. Xiaomi yang dijual para distributor itu sebenarnya yang versi rom Tiongkok, bukan global. Jadi, ada beberapa fitur yang nggak bakal kamu temukan di garansi distributor ini. Misalnya, nggak ada fitur bahasa Indonesia (Cuma bahasa Inggris dan Tiongkok), nggak ada Google Play (pakai store versi Tiongkok), dan nggak bisa update versi MIUI.

Yang paling disayangkan sebenernya nggak bisa update ini, soalnya sistem OS mereka udah di-lock dengan rom Tiongkok, jadi nggak bisa menerima update global. Rugi sih, soalnya pembaruan sistem itu kan penting banget buat meningkatkan performa smartphone. Ya, walau hape saya juga pernah sih mengalami penurunan performa sejak upgrade OS.

Tapi, seiring perkembangannya, garansi distributor sekarang nggak gitu-gitu amat kok. Pihak distributor mulai memutar otak supaya hape ini bisa masuk dengan lebih ‘layak’ di Indonesia. Salah satunya adalah dengan menanamkan rom versi distributor buat mengganti rom Tiongkok. Jadi, kamu bisa menikmati dukungan bahasa Indonesia, hingga Google Play pun tersedia. Tapi tetap sih, nggak bisa menerima update OS. *syedih*

Garansi Resmi Terganjar Aturan TKDN yang Ketat

Indonesia punya aturan TKDN yang ketat banget. Saya nggak jelasin panjang lebar aturan TKDN itu apa ya, kalau belum paham bisa dibaca di sini. Nah, aturan yang sama ini bikin Xiaomi susah masuk di Indonesia. Akhirnya, bisa dilihat pada kasus Xiaomi Redmi Note 3 kemarin sih. Garansi resmi ada, tapi terganjar aturan TKDN yang akhirnya bikin Xiaomi kudu mematikan fitur 4G-nya.

Proses masuk secara resminya aja lama banget, eh ternyata fiturnya nggak lengkap! Penonton kecewa dong ya, soalnya rugi banget punya hape zaman sekarang kalau belum 4G. Alasan ini juga yang bikin para penunggu setia garansi resmi gigit jari dan mulai berpikir untuk melirik produk garansi distributor yang bisa dibilang lengkap nggak lengkap itu.

Rom Distributor Nggak Stabil, Bahkan Ada yang Berpenyakit

Namanya juga rom distributor, biasanya sih dikembangkan dengan seadanya. Jangan bandingin performanya dengan yang dikembangkan Xiaomi atau developer Android handal lainnya. Berdasarkan pengalaman baca di forum Xiaomi, banyak yang bermasalah dengan rom distributor ini. Problemnya juga bervariasi, ada yang sering restart sendiri, tiba-tiba ada aplikasi yang terinstall secara otomatis, dan banyak penyakit lain yang bikin si empunya hape senewen. Kalau saran dari mastah Android di forum sih simpel, flashing aja ke ROM global, dijamin hape bakal sehat wal afiat. Tapi kan, nggak semua orang dibekali dengan pengetahuan dan keberanian flashing hape sendiri, tho?

Nah, beberapa poin itu tadi sih yang bisa saya simpulkan berdasarkan pengalaman saya sejak menjadi Mi-Fans hampir setahunan ini. Hape saya sendiri masih menggunakan rom distributor yang Alhamdulillah sampai sekarang masih baik-baik aja. Iya, kadang gatel juga pengen flashing ke rom global, soalnya dulu sempat ada masalah hape tiba-tiba mati dan baru bisa nyala setelah lewat 15 menit. Dan itu adalah 15 menit paling mendebarkan dalam hidup saya karena khawatir Scarlet (nama hape Xiaomi saya) tidak bisa siuman dari pingsannya.

Beda Xiaomi Garansi Resmi dan Distributor, Pilih yang Mana Dong?
Pertimbangkan sebelum membeli itu penting. Foto: mi.com/in

Kalau kamu emang niat banget beli hape Xiaomi nih, ada beberapa tips yang perlu diperhatikan deh.

  1. Kalau nggak mau risiko, mending beli yang garansi resmi. Jauh-jauh deh dari garansi distributor. Kalau beli di toko selain Erafone, mending tanya dulu garansinya jenis apa. Pikir sebelum benar-benar beli biar nggak nyesel.
  2. Nggak semua garansi distributor jelek. Yang paling penting jangan mau dikadalin sama toko hape. Di Indonesia sendiri, garansi distributor yang bagus itu punya WII alias Wisma Inkopad Indonesia. Kalau garansi dari pihak selain itu, saya nggak berani jamin sih. Semua bakal tergantung amalan dan ibadah kamu.
  3. Kalau mau ikutin tips expert sih nggak usah peduli garansi resmi atau distributor. Toh bisa di-flashing sendiri. Kalau masih belum tahu caranya, rajin-rajin nyimak di forum Xiaomi, baik itu FB atau Kaskus. Entar juga bakalan paham asal tekun aja belajarnya. Flashing itu sebenernya modalnya cuma tiga, yaitu paham, nekat, dan berani. Kalau nggak yakin sendirian, minta bantuan mastah terdekat yang bisa diajak kopi darat dan membimbingmu ke jalan yang benar. Dulu saya awalan ngoprek juga gitu sih, dibimbing dulu sama yang ngerti. Lama-lama jago juga kok. *kibas rambut*
  4. Kalau emang nggak mau repot, mending nggak usah beli Xiaomi lah. Ini serius. Daripada beli, bermasalah, menggerutu lalu menyesal di belakang kan sayang banget.

Intinya, saya sih percaya kalau sebagai smartphone user, kamu harus lebih smart dari hape kamu sendiri. Jadi, cerdas sebelum membeli itu penting banget demi kebahagiaan main gadget yang hakiki. Yang udah ngincer beli Xiaomi tahun depan, mau beli versi yang mana nih?

Baca Juga Dong:

Tahun 2016: Tentang Sebuah Pencarian, Harapan, dan Realita

Mencari Identitas, Antara Ambisi dan Mawas Diri

Demi Hari Tua yang Damai, Saatnya Perencanaan Keuangan Dimulai

Berbagai Keuntungan yang Bisa Diperoleh dari Selembar Kartu Nama

 

2 thoughts on “Beda Xiaomi Garansi Resmi dan Distributor, Pilih yang Mana Dong?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *