Belajar Mengabaikan

Belajar Mengabaikan

Belakangan ini saya berpikir, setelah putus cinta, ada dua tugas utama yang harus dilakukan seseorang: belajar move on dan mengabaikan. Move on aja nggak cukup kalau kamu masih belum bisa mengabaikan.

Beberapa bulan lalu, saya membawa kabar pada seorang teman kalau mantannya masuk rumah sakit. Mantan yang sudah lebih dari setengah tahun tidak saling berkomunikasi. Setelah bertanya detailnya, teman saya langsung menyingkir dari keramaian. Dia refleks menelepon mantannya untuk mengetahui kondisi sang mantan langsung. Setelah itu dia kembali dengan lesu karena tidak mendapatkan jawaban yang bisa mengurangi rasa khawatirnya.

Melihat refleksnya menelepon langsung meninggalkan kesan yang mendalam buat saya. Menurut saya pribadi sih, itu adalah tindakan yang berani, karena nggak semua mantan masih bisa memberikan perhatian sebesar itu. Meskipun tanggapan yang diperoleh nggak sesuai dengan harapannya sih. Dari situ saya paham, situasi mereka sudah berubah.

Setelah putus cinta, mungkin kamu merasa kalau waktumu berhenti saat itu juga. Kamu jadi terlalu fokus untuk dirimu sendiri, fokus untuk move on, fokus buat menghapus kenangan satu per satu. Tapi yang terjadi sebenarnya, hidup terus berjalan. Hidup terus menggulirkan kisahmu dan kisahnya secara terpisah, di mana masing-masing dari kalian sudah bukan menjadi bagian di dalamnya satu sama lain. Kamu mungkin nggak tahu secara lengkap apa yang terjadi pada dirinya, tapi semesta punya caranya sendiri untuk menyampaikan kabar penting tentang dia padamu: lewat cerita seorang teman, saat kamu stalking akun medsosnya, atau lewat reply iseng yang kamu lakukan di InstaStories-nya. Semesta punya cara kerjanya sendiri.

Dan mari mengaku, mendengar mantan masuk rumah sakit, kecelakaan, atau ada keluarganya yang meninggal pasti seperti mimpi buruk buatmu. Saat kamu merasa khawatir tiba-tiba, tapi jawaban yang diperoleh sama sekali nggak memberikan clue untuk membuatmu merasa lega. Karena dari situ kamu mungkin paham kalau kondisinya sudah berbeda. Kekhawatiranmu sudah tidak masuk dalam prioritasnya.

Mengabaikan pun butuh belajar. Tapi kalau memang belum bisa, ya sudah. Dan jangan berkecil hati saat perhatianmu tidak mendapatkan balasan yang sesuai dengan harapan. Mungkin dia di sana berada dalam kondisi terlalu galau untuk bisa membalas perhatianmu. Atau mungkin juga dia di sana sudah tidak berharap kamu untuk terlalu peduli lagi. Nggak masalah. Setidaknya kamu sudah menunjukkan perasaanmu, dan hal itu bisa membuatmu belajar lebih banyak lagi tentang hubungan kalian yang sudah berakhir.

2 thoughts on “Belajar Mengabaikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *