Cerita Tentang Sebuah Tempat yang Disebut ‘Rumah’

Cerita Tentang Sebuah Tempat yang Disebut 'Rumah'

“Apa sih yang bisa diinget anak kelas 3 SD?”

Seseorang mengajukan pertanyaan itu kepada saya beberapa hari yang lalu. Gara-gara itu, some memories keep popping up in my head, randomly. Tentu saja memori terkait masa kecil saya di sekitaran kelas 3 SD yang mungkin biasa-biasa saja, tapi menyenangkan menurut saya.

Saya termasuk salah satu anak yang beruntung karena dibawa pindah ke beberapa kota yang berbeda waktu kecil dulu. Sejak lahir hingga kelas 3 SD, saya tinggal di Tangerang. Setelah itu saya pindah ke Serang hingga kelas 3 SMP. Begitu lulus SMP, saya dibawa pindah lagi ke Malang, kota yang sudah 13 tahun ini saya tinggali.

Lucunya, meskipun hanya tinggal sampai kelas 3 SD di Tangerang, justru di sanalah kota dan rumah yang paling saya rindukan. Saya bahkan masih sangat hafal alamat rumah waktu masih tinggal di sana dulu. Dan gara-gara kerinduan yang random ini, tadi pagi saya berusaha googling sekolah pertama saya di sana, SD Islam 17 Ramadhan. Guess what, sekolah itu masih ada sampai sekarang! Sempat mikir sekolah itu mungkin sudah bubar, soalnya dulu saya termasuk angkatan pertama yang sekolah di sana waktu pertama kali dibuka. Dulu, satu kelas hanya berisi 11 orang. Itu juga yang bikin saya kaget waktu pindah ke salah satu SD negeri di Serang, di mana satu kelas bisa berisi 50 anak!

Hasil pencarian Google, ternyata emang bener masih ada!

Yang paling bikin kangen sebenarnya memang rumah di Tangerang yang tiap sudutnya masih begitu saya ingat. Entah dulu karena saya masih kecil atau gimana, rumah itu rasanya luas banget dan sangat menyenangkan. Di halaman depannya ada garasi yang biasa dipakai buat memarkir mobil Daihatsu Espass bapak. Tepat sebelum masuk ruang tamu, ada taman mungil yang dihiasi rumput Jepang dan bunga, entah apa namanya, tapi saya masih ingat bentuknya. Mungkin taman itu memang nggak luas, tapi waktu kecil dulu bisalah dipakai lari-lari sore sampai saya capek.

Sementara garasi itu di siang hari kosong karena mobilnya digunakan bapak buat kerja. Biasanya saya sulap jadi tempat main sepeda atau sepatu roda punya Mas. Kok nggak main sepeda di luar? Saya dulu nggak boleh keluar rumah sih, soalnya begitu pagar dibuka sudah jalan raya yang rame oleh mobil lewat. Jadi arena main saya ya sebatas di taman dan garasi depan rumah saja. Dan ah ya, ada satu lagi halaman di belakang rumah.

Jadi, dari garasi di depan, kamu bisa masuk ke sebuah lorong kecil yang nyambung ke halaman belakang rumah. Lorong itu biasanya tempat menjemur pakaian yang habis dicuci. Halaman belakang rumah saya waktu itu juga cukup luas, menurut saya dalam versi yang masih kecil, sih. Di sana ada pohon jambu Bangkok, yang setiap berbuah selalu terasa manis dan menyegarkan. Agak jauh ke belakang, ada pohon jambu merah yang dulu saya ingat banyak ulat bulunya. Area kosong antara pohon jambu air dan jambu batu itu, pernah menjadi tempat berdirinya ayunan buatan bapak untuk saya.

Cerita Tentang Sebuah Tempat yang Disebut 'Rumah'
Taman di depan rumah yang rasanya luas banget dulu.

Mungkin waktu itu saya baru masuk TK ya, dan merasakan pengalaman pertama sekolah itu menyenangkan karena ada banyak mainan seperti ayunan, jungkat-jungkit, perosotan, dan sebagainya. Saya paling suka main ayunan, sayangnya nggak bisa lama-lama karena dipakai bergantian dengan murid lain. Entah bagaimana cerita detailnya saya lupa, akhirnya bapak bikin sendiri ayunan buat saya bermodal kayu dan tali tambang. Ayunan yang mungkin hanya saya pakai bermain beberapa hari saja karena ternyata sensasi mengayunnya nggak seindah kalau main di sekolah. Dasar anak nggak tahu diri! Hahaha. Tapi alasan lainnya karena letaknya dekat pohon jambu merah yang banyak ulat bulunya, jadi setiap main di sana badan saya selalu gatal-gatal.

Di halaman belakang rumah itu juga pernah menjadi tempat saya memelihara kelinci. Masih ingat juga dulu saya selalu senang melihat kelinci yang dijual di pasar. Rasanya lucu banget dan ingin punya. Lalu suatu hari, saya benar-benar dibelikan kelinci untuk dipelihara di rumah. Tapi saat sudah sampai rumah, ternyata kelincinya nggak seimut yang ada di pasar. Dia buang kotoran sembarangan, lari-lari nggak karuan. Lalu beberapa hari kemudian kelincinya mati karena kehujanan. *maafin aku yang waktu itu belum bisa bertanggung jawab ya, Ci… 🙁

Cerita Tentang Sebuah Tempat yang Disebut 'Rumah'
Sudut lain di rumah itu.

Waktu tinggal di Tangerang juga saya sempat menjadi saksi tragedi Mei 1998 yang menyeramkan. Saat hari H kejadian, saya sempat melihat asap hitam mengepul di langit dari balik pagar rumah. Lalu orang-orang berlarian membawa banyak barang, mulai dari kulkas, TV, lemari, kasur, bahkan ada yang diangkut becak. Saya lalu dipanggil untuk masuk ke dalam rumah oleh Eyang saat jalanan sudah tambah gaduh oleh orang-orang yang teriak “Bakar! Bakar!”.

Lalu beberapa hari setelahnya, saya benar-benar melihat sisa mall dan pertokoan yang dibakar. Benar-benar hangus. Waktu itu saya sedih banget, soalnya Lippo Mall Karawaci (saat itu namanya Mega Mall) juga ikut terbakar dan nggak beroperasi dalam jangka waktu yang lama. Di Lippo Mall itu, tempat saya sering diajak nonton kembang api setiap malam minggu oleh Mas Iwan dan Mbak Warti. Yang ada di pikiran Wuri kecil saat itu, saya nggak bisa nonton kembang api lagi entah sampai kapan.

Saya juga nggak paham kenapa di antara sekian banyak rumah yang saya tempati, hanya rumah itu yang paling saya rindukan. Mungkin karena di sana adalah tempat pertama saya mengenal konsep ‘rumah’. Cinta pertama saya terhadap sesuatu yang disebut ‘rumah’. Di rumah itu juga ada banyak kenangan sama Eyang yang kalau diceritakan bisa panjang banget. Intinya, saya lagi kangen sama rumah itu. Rumah yang menurut saya menjadi bagian dari masa kecil saya yang sudah hilang. Ya, hilang, karena rumahnya sudah dijual sejak lama dan direnovasi ulang oleh pemiliknya yang baru.

Jadi, beruntunglah kamu yang sekarang lagi mudik ke kampung halaman dan napak tilas ke tempat-tempat yang membawa kenangan masa kecil. Entah itu kebun belakang rumah, sawah tempat kamu dulu main seharian, atau apalah. Karena sekarang saya sedang rindu tiap sudut itu. Sayang, rindu itu sudah tak bisa lagi dituntaskan.

Baca Juga Dong:

Dave Grohl, Cinta Pertama Saya Pada Musik Rock

Belajar Mengabaikan

Menjadi Penulis yang Tidak Pernah ‘Menulis’

Jadi Perempuan yang #MemesonaItu…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *