Dave Grohl, Cinta Pertama Saya Pada Musik Rock

Dave Grohl, Cinta Pertama Saya Pada Musik Rock
Spread the love

Setiap orang pasti punya crush yang mengawali mereka sebelum jatuh cinta lebih dalam pada sesuatu. Seperti misalnya Ahmad Dhani yang dikenal ‘gila’ pada Freddie Mercury dan Queen yang jadi inspirasinya dalam membentuk Dewa 19, sebelum benar-benar gila seperti sekarang. Atau seperti rentetan tulisan Pramoedya Ananta Toer yang sering bikin jatuh cinta para penulis muda dan punya mimpi untuk menjadi penulis besar seperti beliau.

Saya juga selalu punya crush yang mengawali kecintaan saya untuk banyak hal. Mulai dari menulis yang sekarang jadi pekerjaan saya, genre lagu tertentu, sampai hal paling receh seperti drama Korea yang sekarang jadi hiburan hidup dan mati saya. Semua selalu diawali dengan crush yang seiring berjalannya waktu malah jadi cinta terdalam saya untuk hal tersebut. Sesuatu yang tumbuh semakin dalam dan nggak bisa dilupakan begitu saja.

Kali ini saya ingin membahas crush pertama saya dalam salah satu genre musik favorit saya, rock. Sebenarnya saya tipe orang yang suka lagu apa saja selama enak didengar. Kalau nggak percaya, coba intip playlist di smartphone saya, atau random playlist yang saya dengar di YouTube saat kerja. Semuanya nggak ada yang nisbi bertahan di genre tertentu. Hari ini saya bisa asyik dengerin The Lumineers, besoknya saya bisa galau sama Big Baby Driver. Lusa, saya sudah move on ke lagu-lagunya Martin Garrix.

Tapi dari semua genre, rock tetap jadi musik idola yang timeless buat saya. Selalu asyik didengerin kapan saja. Dan kecintaan saya pada musik rock berawal dari Dave Grohl. Dari semua penyanyi rock yang ada, Grohl-lah yang saya tasbihkan sebagai cinta pertama saya pada genre musik yang satu ini.

Kalau kamu pikir cinta pertama saya pada Grohl berjalan manis seperti di drama Korea, salah banget. Nggak ada yang terasa manis pada perkenalan pertama seorang gadis 6 tahun yang dicekoki oleh suara teriak-teriak ala Grohl di lagu Everlong yang saya dengar di MTV. Dulu lagu itu sering diputar di MTV. Dan apa coba keindahan dari video klipnya yang menampilkan vokalis jabrik yang teriak-teriak dari awal sampai akhir lagu? Bagi seorang gadis 6 tahun, pemandangan jelas sangat tidak imut ketimbang melihat Sailormoon.

Dave Grohl, Cinta Pertama Saya Pada Musik Rock
Penampilan Dave Grohl di video klip Everlong.

Tapi sialnya, saya punya kakak cowok di usia abege yang lagi kecanduan ngeband. Foo Fighters jadi salah satu panutannya saat itu. Setiap kali ada Foo Fighters di MTV, kakak saya selalu menyetel TV dengan volume maksimal. Yang sangat mengganggu adik kecilnya karena lagi ingin nonton Sailormoon. Jadi, begitulah awal mula perkenalan saya dengan Dave Grohl dan Foo Fighters.

Kalau kata orang trisno jalaran soko kulino, itu bener banget. Nggak tahu dari mana awalnya, tiba-tiba lama kelamaan, saya jadi suka Foo Fighters. Lagu-lagu mereka yang awalnya annoying mendadak jadi terdengar mengasyikkan. Saya juga jadi sering ikutan nyanyi kalau denger lagu itu diputar. Oh ya, jangan bayangkan saya bisa menyanyi dengan benar, karena anak tahun 90-an dulu kebanyakan hanya menyanyi lagu bahasa Inggris berdasarkan seperti apa bunyi yang mereka dengar. Dan FYI, saya baru bisa benar-benar menyanyikan lagu Foo Fighters dengan baik dan benar saat SMP, bermodal majalah yang isinya chord gitar dan lirik lagu. xD

Influence musik rock yang dibawa kakak saya sebenarnya nggak cuma Foo Fighters saja. Saya juga kenal banyak band rock legendaris lainnya, mulai dari Nirvana, Bon Jovi, Scorpion, Queen, de el el. Tapi, entah kenapa yang saya rasa kecintaannya masih mengakar kuat dalam diri saya adalah dengan Foo Fighters. Dave Grohl terutama.

Saya selalu percaya kalau cinta nggak butuh alasan. Sama seperti saya yang selalu cinta dengan Dave Grohl dan suaranya yang selalu so damn powerful. Saya nggak bakal komen banyak-banyak tentang musikalitasnya sih, karena saya juga bukan pengamat musik. Yang ada malah komen receh dan nggak mutu. Tapi ada sesuatu dalam dirinya yang bikin saya nggak bisa berpaling.

Dave Grohl, Cinta Pertama Saya Pada Musik Rock
Semakin tua semakin menjadi, setuju? Image by: metalinjection.net

Apalagi belakangan saya lagi hobi lihat live performance Foo Fighters di YouTube dan tetap ternganga sama penampilan Grohl yang luar biasa keren. Misalnya saja, di versi asli lagu Everlong benar-benar menguji kekuatan suara Grohl dari awal sampai akhir. Tapi, di salah satu versi akustiknya, Grohl bisa membawakannya dengan lembut, tapi tetap nggak kehilangan nyawa.

Yang bikin saya makin cinta, musikalitas Foo Fighters tetap terjaga. Jujur sih saya sempat kecewa dengan beberapa band rock lawas yang album terbarunya nggak sesuai ekspektasi. Tapi di Concrete of Gold, album terbaru Foo Fighters, masih terdengar lumayan. Kalau dengerin versi studionya sih nggak sekeren album lama mereka. Tapi kalau sudah dibawakan secara live, semuanya termaafkan oleh penampilan mereka yang tetap amazing. Terutama Grohl ya, tetep. Hahaha.

Biarpun seperti cinta mati dengan Grohl, tapi bukan berarti hidup saya hanya diisi oleh lagu-lagu mereka. Seperti yang saya bilang diawal, playlist saya random. Karena ternyata banyak jenis musik lain yang juga menyimpan keindahan lain sekaligus punya makna tersendiri buat saya. Tapi, ada satu hal yang pasti saya alami saat mendengarkan lagu-lagunya Foo Fighters, suara Grohl lebih tepatnya.

Menikmati lagu jenis lain ibarat petualangan baru buat saya. Excited sekali rasanya. Tapi, lagu-lagu yang dinyanyikan Grohl selalu menjadi rumah tempat saya pulang untuk beristirahat melepas lelah. Sebuah playlist di mana banyak kenangan familiar yang muncul, begitulah saya menggambarkan lagu-lagu dari Foo Fighters. Sebuah playlist yang membuat saya nyaman, feels like home, dan membawa banyak kenangan masa kecil yang begitu hangat. That’s why I love Dave Grohl to the moon and back.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *