Demi Hari Tua Yang Damai, Saatnya Perencanaan Keuangan Dimulai

Demi Hari Tua Yang Damai, Saatnya Perencanaan Keuangan Dimulai

Di usia kamu saat ini, pernah nggak sih terpikir untuk mulai merencanakan hari tua yang damai, tenang, dan bahagia? Membayangkan diri duduk santai bersama pasangan di usia pensiun, melihat anak-anak yang sudah dewasa sambil menimang cucu pasti terasa heartwarming banget. Mungkin hampir semua orang menginginkan hari tua yang terjamin, tanpa harus dipusingkan dengan tagihan ini itu. Tapi, sudahkah mulai membuat perencanaannya?

Saya sendiri sebenarnya sudah mulai memikirkan hal ini sejak kuliah. Memang belum ada langkah konkret yang udah saya lakukan sih. Tapi, perencanaan hari tua itu penting banget dilakukan sedini mungkin, bahkan saat usia kamu baru di angka 20-an. Lulus kuliah dan berada di tahun-tahun awal bekerja bukan saatnya untuk foya-foya. Iya sih, pasti ada hasrat yang begitu kuat untuk beli barang macam-macam, mulai dari gadget, fashion items paling kekinian, macam-macam pernak-pernik yang up to date, sampai barang yang sebenarnya nggak butuh-butuh banget juga dibeli. Tapi, coba deh buat mulai melakukan perencanaan keuangan yang baik dan benar sambil memikirkan apa yang kira-kira bisa dilakukan saat hari tua nanti.

Kalau dari pendapat saya pribadi sih, ada beberapa fakta tentang pentingnya perencanaan keuangan yang perlu banget dipahami mulai sekarang:

Rata-rata, usia produktif seseorang bisa bekerja kantoran itu hanya sampai di angka 55-60 tahun. Katakanlah kamu baru dapat pekerjaan yang benar-benar stabil dengan gaji yang lumayan di usia 25. Artinya, ada sekitar 30-35 tahun waktu yang dihabiskan untuk mengeruk pundi-pundi penghasilan dari bekerja kantoran. Jadi, apa yang bakal kamu lakukan di rentang waktu selama itu demi mempersiapkan keuangan yang lebih stabil di hari tua?

Fakta yang juga perlu kamu tahu, persiapan hari tua saja nggak bakal cukup dilakukan hanya dengan menabung. Kenapa? Ya coba itung aja deh, semakin dewasa, kira-kira kebutuhan hidup bakal bertambah atau berkurang? Iya kalau gaji bakal meningkat berkali-kali lipat setiap tahunnya, atau minimal beberapa tahun sekali. Tapi kalau naiknya juga tipis-tipis, pasti alokasi tabungan lama-lama terkikis juga.

Itu tadi perhitungan kalau masih single ya. Nah, kalau sudah menikah jadi lebih kompleks lagi. Bakal ada suami/istri dan anak yang akan menambah beban keuangan. Zaman sekarang waktu kamu jomblo aja, kebutuhan sehari-hari sudah mahal. Apalagi biaya pendidikan dan kesehatan yang juga butuh budget yang nggak sedikit. Biaya buat nyicil KPR, motor, sampai mobil juga nggak boleh kelupaan, lho.

Nah, ingat juga, di rentang masa produktif kamu kerja yang 30-35 tahun itu, sekitar 20 tahunnya bakal dihabiskan buat melunasi KPR. Tapi, di saat cicilan KPR sudah mulai lunas, anak pertama yang akan masuk universitas juga membutuhkan biaya yang cukup bikin ngelus dada di zaman sekarang. Belum anak kedua, ketiga, dan selanjutnya yang juga masih dalam masa sekolah.

Intinya, semakin mendekati usia pensiun, kebutuhan keuangan malah semakin besar. Kalau nggak dipikirkan mulai sekarang, kamu bakal kelabakan nantinya. Nggak ada salahnya mulai sekarang berpikir mau melakukan apa demi masa depan yang lebih tenang dan damai. Caranya sih tergantung pilihan masing-masing. Mungkin ada yang mau bikin usaha sendiri buat ‘tabungan’ di hari tua. Kalau orang tua teman saya dulu sih sudah mempersiapkan hari tua sejak anak-anaknya masih kecil dengan membangun kos-kosan untuk mahasiswa. Awalnya cuma satu kosan kecil yang letaknya di gang kecil, lama-lama jumlahnya jadi nambah di area yang berbeda. Sekarang di saat mereka benar-benar sudah memasuki masa pensiun, tinggal menikmati hasil dari uang kosan yang disetor rutin tiap tahunnya.

Usaha lain juga banyak, apalagi zaman sekarang trennya mulai berubah. Mengembangkan startup sendiri, bikin online shop, atau bisnis apa saja sesuai minat dan bidang masing-masing juga layak dicoba. Main investasi reksadana juga bisa jadi pilihan. Iya, memang prosesnya susah banget, nggak instan kayak bikin Candi Prambanan yang cuma butuh semalam. Tapi, percaya deh kalau nanti pasti ada hasilnya. Asal pinter-pinter aja melakukan pengelolaan dan tetap hati-hati dalam menjalankan bisnis yang dilakukan.

Seiring dengan menulis postingan ini, saya yang lagi minum susu cokelat juga masih merenung kok, apa yang kira-kira bisa dilakukan untuk 30 tahun ke depan. Semoga segera menemukan jawaban dan segera dilaksanakan!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *