Drama Yang Cuma Dirasakan Mereka yang Nggak Bisa Nyebut Huruf ‘R’

Drama Yang Cuma Dirasakan Mereka yang Nggak Bisa Nyebut Huruf ‘R’

Sebelum baca postingan ini lebih jauh, saya mau meyakinkan kamu kalau isinya sampai selesai adalah murni curhat dari pengalaman sendiri. Kalau kamu merasa ini nggak penting, silakan di-skip ke tulisan yang lain aja. Serius.

Hai, nama saya Wuri. Wuri Anggarini lengkapnya. Mau tahu nggak hal paling remeh apa yang saya anggap paling menyebalkan? Menyebut nama sendiri. Iya, soalnya saya nggak bisa nyebut huruf ‘R’ dengan baik dan benar. Padahal nama saya punya unsur huruf ‘R’ yang cukup strategis. Kamu yang bukan masuk kategori orang yang dianugerahi dengan status cadel nggak akan tahu bagaimana rasanya. Jadi, saya akan banyak curhat di sini.

Kebayang nggak sih kalau hal paling awkward dalam hidup kamu adalah menyebut nama sendiri? Waktu lagi kenalan dan harusnya bilang nama saya siapa, orang yang saya ajak kenalan bakal bilang seperti ini, “Hah? Siapa? Uli? Wuli? Ohhh… Wuriiiii”. Kira-kira begitulah kumpulan respons yang saya generalisir selama 25 tahun saya hidup sebagai manusia yang nggak bisa nyebut ‘R’.

Fun Fact: Bully Dari Teman Menyadarkan Kalau Saya Cadel!

Sebenarnya cadel saya sih nggak parah-parah amat. Nggak sampai yang bilang ‘R’ jadi ‘L’ gitu. Kalau orang normal mengucapkan ‘R’ dengan lidah berada di langit-langit mulut sambil bergetar, lain lagi sama saya. Saya bisa merasakan kalau getaran yang muncul adalah yang dalam tenggorokan. Oke, udah bisa membayangkan gimana epiknya cara penyebutan ‘R’ yang keluar dari mulut saya?

Waktu kecil saya sih nggak sadar kalau saya tergolong makhluk cadel. Seingat saya, pengetahuan ini muncul saat saya kelas 1 atau 2 SD. Waktu itu beberapa orang teman sekelas saya mengerumuni saya dan minta saya mengucapkan huruf ‘R’. Nggak cuma itu saja, tapi juga minta saya mengucapkan nama saya sendiri. Dan nggak sampai itu saja, mereka minta saya bilang, “Ular melingkar di atas pagar muter-muter”. Saya nurut saja dan mengucapkan semuanya dengan lancar banget, menurut saya waktu itu. Tapi mereka malah tertawa. Waktu itu saya pasti polos banget karena nggak paham apa yang sedang terjadi. Lalu mereka bilang saya cadel. Dan sekarang saya mengakui kalau mereka melakukan per-bully-an yang sempurna.

Aksi Protes Terhadap Ibu

Waktu kelas 3 SD, saya sempat protes sama Ibu dan bertanya kenapa beliau menamai saya Wuri, padahal saya nggak bisa nyebut huruf ‘R’ dengan baik dan benar. Iya, saya protes banget sambil merengek waktu itu. Saat kelas 3 SD, saya sempat pindah sekolah yang awalnya di kota besar seperti Tangerang, ke sebuah desa kecil di Serang. Kebayang dong selama beberapa hari ke depan saya harus selalu berkenalan dengan orang yang baru saya temui dengan menyebut nama saya sendiri. Dan dari situ saya tahu kalau anak-anak yang tinggal di kampung ternyata punya kemampuan mem-bully yang lebih luar biasa dari yang tinggal di kota.

Inilah yang melatarbelakangi saya melakukan protes resmi pada Ibu. Waktu itu Ibu hanya menanggapi sekenanya sambil mengurus adik saya yang masih bayi. Kira-kira begini percakapannya.

“Buk, Ibuk kenapa sih kasih aku nama Wuri? Udah tahu aku nggak bisa bilang ‘R’ juga. Aku mau ganti nama pokoknya.” (baca bagian ini sambil bayangin anak kelas 3 SD yang lagi merengek. Yang jelas nggak lucu sih).

“Ya mana dulu Ibuk tahu kalau kamu nggak bisa bilang ‘R’ tho, Nduk.”

“Ya tapi kenapa panggilannya harus Wuri?”

“Terus mau dipanggil apa?”

(Saya cuma diem dan mikir waktu itu. Wuri Anggarini. ‘Wuri’ jelas susah disebut. ‘Angga’ itu nama kakak saya yang pertama. ‘Rini’ juga ada huruf ‘R’-nya)

“Yaudah mau ganti nama aja. Aku mau ganti namaaaa.”

“Lah ya apa bisa tho, Nduk? Lagian nama Wuri itu kan bagus…”

“Bagus dari mana? Jeleeek, aku nggak sukaa.”

“Bagus lah, Wuri itu kan dari Tut Wuri Handayani.”

“Kalau bagus, terus apa artinya Wuri Anggarini?”

“Nggak ada. Ibuk ngarang aja. Kan bagus…”

Jadi kesimpulannya, nama saya 100% hasil karangan Ibu yang katanya bagus, meskipun Ibu cuma ngarang aja dan nggak ada artinya. FYI, sebelumnya Ibu pernah bilang kasih saya nama Wuri karena rencananya ingin saya jadi anak terakhir. Ternyata saya malah punya adik. Banyak lagi.

Nama Sendiri Yang Selalu Bermasalah

Semakin dewasa, ternyata pengucapan nama sendiri masih belum semulus jalan tol. Masih banyak orang yang harus mengonfirmasi berkali-kali saat saya mengucapkan nama sendiri. Sedih iya, tapi sekarang lebih bahagia karena ternyata saya nggak sendiri. Saya sering bertemu makhluk cadel yang mirip saya sejak kuliah hingga kerja. Memang sih nggak banyak. Kami termasuk golongan langka yang perlu dilestarikan mungkin…

Tapi, masalah nama saya sendiri sebenarnya nggak hanya terbatas pengucapan yang susah saja. Wuri Anggarini sering salah jadi Wuri Anggraini. Kesalahan ini sering terjadi di buku kehadiran sekolah. Bahkan saat kuliah pun nama yang tercetak di daftar presensi ternyata bukan nama saya yang sebenarnya. Saya biarkan aja sih selama 5 tahun kuliah dan baru bener-bener diurus ke gedung rektorat menjelang sidang skripsi. LOL.

Sekarang sih saya termasuk ‘bodo amat’ ya kalau harus mengucapkan nama. Kalau lawan bicaranya dengar ya, syukur. Nggak pun bakal saya ulang sampai dia dengar dengan jelas. Yang jelas, cadel itu asyik kok. Kamu jadi orang unik yang punya kesan tersendiri di mata orang lain. Bahkan bisa jadi nantinya malah ada orang yang kangen dengan cara kamu mengucapkan nama sendiri. Yang ini serius karena saya udah mengalaminya.

Kalau kamu cadel juga seperti saya atau pernah punya pengalaman dengan makhluk cadel, boleh dong sharing di kolom komentar… xD

 

Baca Juga:

Berbagai Keuntungan yang Bisa Diperoleh Dari Selembar Kartu Nama

Harapan Kegilaan Suicide Squad yang Berujung Patah Hati

Produktivitas Menurun, Mungkin Kamu Kurang Kasih Sayang. Eh?

Rumput Tetangga Memang Selalu Lebih Hijau, Kalau Kamu Menganggapnya Demikian

4 thoughts on “Drama Yang Cuma Dirasakan Mereka yang Nggak Bisa Nyebut Huruf ‘R’

  1. masak sih wul? sumpa wul?

    eh cerita tentang nama, nama karangan ibuk bagus kok.
    ketimbang namanya ichal yang historynya adalah gabungan dari 3 nama mantan pacar kakaknya yg ngasi nama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *