Kaleidoskop ‘Drama’ yang Jadi Cobaan Selama Berstatus Pejuang LDR

Kaleidoskop Drama yang Jadi Cobaan Selama Berstatus Pejuang LDR

Mei tahun 2017 nanti saya resmi menjalani 3 tahun LDR bareng Mas Pacar. Iya, masih lama banget emang, itu pun bakal kesampaian kalau lancar (Aamiin). Tapi mumpung momennya lagi tahun baruan, saya jadi pengen bikin postingan tentang kaleidoskop gitu. Akhirnya kepikiran tema ini.

Gimana rasanya menyandang status pejuang LDR? Nggak semenakutkan yang dikira kebanyakan orang kok, tapi juga nggak segampang yang dibayangkan. Ada momen waktu jarak seolah nggak berarti apa-apa, tapi sering juga terasa galaunya. Postingan ini isinya murni pengalaman saya. Dan menurut kajian studi fenomenologi, pengalaman individu itu sifatnya unik dan subyektif, nggak bakal sama antara satu orang dengan yang lainnya. Jadi, jangan dibikin horor ya. Buat baca-baca aja siapa tahu situ lagi senggang.

Jadi, ini dia rangkuman drama apa aja yang selama ini sudah menjadi cobaan saya dan Mas Pacar selama LDR!

Tahun Pertama LDR Dipenuhi dengan Rasa Kangen yang Nggak Biasa

Kaleidoskop Drama yang Jadi Cobaan Selama Berstatus Pejuang LDR
Rasa kangen yang nggak biasa selalu muncul di tahun pertama. Foto: id.pinterest.com

Tahun pertama adalah proses adaptasi maha dahsyat yang saya alami. Gimana nggak, sebelum LDR, kami 5 tahun pacaran yang tiap hari sama-sama. Nempel terus kayak perangko. Lalu suatu hari LDR itu datang begitu saja. Nggak ada waktu buat mikir siap apa nggak waktu itu. Restu yang saya berikan murni supaya si Mas bisa lebih berkembang di perantauannya.

Tapi, ternyata berat banget di awal. Iya, berat banget. Seminggu pertama rasanya pengen nangis tiap malem. Beberapa bulan pertama saya sering bangun tengah malam dan susah tidur lagi. Muncul rasa kangen nggak biasa yang bener-bener menguji mental. Di tahun pertama juga intensitas berantem sering banget dengan beragam alasan. Yang paling sering sih gara-gara susah sinyal.

Keyakinan dan Keraguan yang Datang Silih Berganti

Kaleidoskop Drama yang Jadi Cobaan Selama Berstatus Pejuang LDR
Hati yang labil waktu LDR itu biasa. Foto: coltre.nu

LDR di tahun pertama bikin hati saya labil luar biasa. Di satu sisi, saya masih optimis kalau punya hubungan berjarak itu nggak masalah. Tapi di sisi lain, mulai ada godaan datang. Misalnya pertanyaan, “Mau sampai kapan jauh-jauhan gini?”. Saya pun mulai jadi wanita menyebalkan yang sering melontarkan kode-kode nggak jelas hingga bahasan tentang menikah jadi salah satu topik sensitif buat kami berdua. Endingnya, nggak mungkin nggak berantem tiap kali membahas tentang pernikahan.

Menginjak Tahun Kedua, Hubungan Mulai Terasa Hambar

Kaleidoskop Drama yang Jadi Cobaan Selama Berstatus Pejuang LDR
Cobaan lain, hubungan yang terasa hambar. Foto: elitedaily.com

Kesannya keren banget ya bisa bertahan LDR sampai setahun. Tapi justru tahun kedua ujiannya mulai makin berat si bagi saya. Di tahun kedua ini emang nggak sedrama tahun pertama. Saya mulai bisa beradaptasi dengan ‘kejombloan’ saya sejak jadi pejuang LDR. Justru saya mulai menemukan diri yang lebih mandiri. Mulai mengetahui apa yang diinginkan dalam hidup. Tapi, saking terbiasa dengan sendiri, saya pun merasa hubungan dengan Mas Pacar jadi mulai terasa hambar. Iya, kami baik-baik aja. LDR mulus tanpa halangan, tapi justru itu yang bikin mulai bosan.

Isi chat mulai monoton, berawal dari pertanyaan lagi apa, udah makan apa belum, ngapain aja hari ini, dan pertanyaan serupa yang diulang-ulang saking nggak tahu apa yang mau dibahas. Telepon tiap malam pun dilakukan hanya demi rutinitas. Daripada nganggur nggak tahu mau ngapain. Akhirnya lebih banyak diemnya daripada ngobrol. Intinya, saya mulai merasakan titik jenuh tertinggi dalam LDR.

Di Tahun yang Sama, Hadirnya Orang Ketiga (?)

Kaleidoskop Drama yang Jadi Cobaan Selama Berstatus Pejuang LDR
Orang ketiga hadir seperti cerita di sinetron. Foto: id.pinterest.com

Jujur, lima tahun pacaran saya nggak pernah membayangkan bakal ada orang ketiga dalam kehidupan kami. Rasanya dunia saya begitu penuh dengan Mas Pacar sampai nggak ada space buat orang ketiga. Ternyata saya terlalu meremehkan. Tuhan maha kuasa membolak-balikkan hati seseorang.

Mirip cerita sinetron, orang ketiga yang tiba-tiba datang tak dijemput dan pulang nggak dianter ini tentu saja bikin hati galau. Iya, saya nggak pernah membayangkan skenario begini bakal saya alami sebelumnya. Orang ketiga inilah yang bikin saya galau tingkat dewa, mempertanyakan apa konsep jodoh yang sebenarnya. Mulai ragu dengan hubungan yang udah saya jalani bareng Mas Pacar. Sesuatu yang belum pernah saya rasakan sebelumnya.

Tapi, Musuh Paling Sempurna Adalah Pasanganmu Sendiri

Kaleidoskop Drama yang Jadi Cobaan Selama Berstatus Pejuang LDR
Musuh paling sempurna adalah pasanganmu sendiri. Foto: id.pinterest.com

Ternyata, kehadiran orang ketiga nggak sedahsyat itu pengaruhnya dalam hubungan kami. Justru saya menemukan kalau musuh paling sempurna ternyata adalah pasanganmu sendiri. Iya, dia yang kamu sayangi tanpa syarat ternyata adalah manusia biasa yang juga punya sisi lain yang kamu benci setengah mati. Ketika masing-masing dari kalian mulai menampakkan hal tersebut, jadilah pasanganmu sebagai musuh yang paling sempurna.

Sudah nggak terhitung berapa sering pertengkaran yang terjadi di antara kami ketika sedang meributkan sifat buruk masing-masing. Pertengkaran yang bisa membuat saya menangis dengan mudahnya bahkan hingga hari-hari selanjutnya. Kami mendadak menjelma jadi dua orang yang saling menyerang dengan kejam. Saling menyalahkan satu sama lain, memprotes sifat buruk yang ada, hingga men-judge dengan sinis, “Kamu berubah”.

Dari situ saya paham, jarak ternyata mampu mengubah segalanya. Bohong sih kalau saya bilang dua tahun berjauhan ini kami baik-baik saja. Kenyataannya banyak yang berubah. Banyak pertengkaran yang ‘dipaksa’ selesai begitu saja, lalu terulang kembali beberapa waktu kemudian. Iya, LDR memang melelahkan seperti itu.

Tapi, sisi baiknya adalah saya nggak pernah merasa berjuang sendirian. Biarpun banyak pertengkaran yang terjadi, saya juga tahu nun jauh di sana si Mas juga berusaha membuat hubungan kami jadi lebih baik. Dengan segala keterbatasannya, dia tetap membuat saya merasa menjadi prioritas. Kami memang masih sama-sama belajar berdamai dengan jarak dan waktu. Dan tingkat kesulitannya pun bertambah setiap harinya. Saya belum tahu juga sih bagaimana nanti endingnya. Tapi, selama masih sama-sama berjuang, saya percaya kalau pasti akan diberikan yang terbaik.

Selamat tahun baru 2017, Mas!

Baca Juga Dong:

Beda Xiaomi Garansi Resmi dan Distributor, Pilih yang Mana Dong?

Tahun 2016: Tentang Sebuah Pencarian, Harapan, dan Realita

Break Menulis Itu Nggak Dosa Kok!

Meneruskan Studi, Kebutuhan Akademisi atau Sekadar Gengsi?

7 thoughts on “Kaleidoskop ‘Drama’ yang Jadi Cobaan Selama Berstatus Pejuang LDR

  1. Wih… bagiku, kayaknya LDR itu serem banget. Aku gak sanggup bayanginnya. Jarak Pakisaji-Sawojajar aja bisa bikin aku ngomel, nangis, marah, apalagi luar kota, luar pulau, luar negeri?? T_T Kamu keren Wuriiiii

  2. Seandainya memang berjodoh, semoga ada jalan terbaiknya ya. Entah Mba yang ikut Mas atau si Mas yang kembali. Apapun itu, semoga semua langkah mba dimudahkan ya 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *