Karena Setiap Orang Punya Cerita Kehilangannya Sendiri

Karena Setiap Orang Punya Cerita Kehilangannya Sendiri

Setiap cerita kehilangan pasti menyimpan dukanya masing-masing, entah disadari atau tidak oleh si empunya hati. Lucunya manusia, kadang dia nggak sadar kalau sedang mengalami luka yang begitu hebat karena kehilangan sesuatu. Lalu baru mulai merasa ketika kondisinya sudah babak belur. Setidaknya itu yang pernah saya rasakan sih. Mengutip perkataan seorang dokter yang pernah memeriksa saya, saya ini orang yang tahan nggak enak. Lama-lama saya sadar kalau frase ‘nggak enak’ ini bisa merujuk ke berbagai hal. Salah satunya adalah perasaan sakit dan terluka. Tahu nggak, apa yang hilang dari saya? Saya kehilangan diri sendiri.

Anggap saja ini adalah cerita di kehidupan saya yang sudah lampau, biarpun sebenarnya saya ingin menganggapnya sebagai sebuah fiksi. Alkisah, perpisahan dengan seseorang membuat hidup saya terasa limbung seketika. Kalau Taylor Swift menuliskan quote, “She lost someone but she found herself, and somehow that was everything”, maka yang saya alami adalah kebalikannya.

Ada satu momen yang sangat panjang di mana saya bertanya pada diri sendiri tentang kekurangan yang saya miliki secara terus-menerus. Tentang kenapa hubungan itu berakhir, kenapa kami adalah salah satu bentuk ketidakmungkinan yang ada di dunia ini, kenapa begitu banyak kekurangan yang saya miliki untuk mempertahankan apa yang saya inginkan. Fokus terbesarnya adalah pada pertanyaan terakhir. Tentang kekurangan saya. Beragam pikiran negatif pun mulai membombardir kepala saya yang intinya adalah saya kurang baik. Saya kurang pantas untuk menjadi seseorang yang mampu mempertahankan hubungannya.

Karena Setiap Orang Punya Cerita Kehilangannya Sendiri
Karena Setiap Orang Punya Cerita Kehilangannya Sendiri

Pikiran yang lebih kejam adalah ketika membayangkan bahwa seseorang yang baru saja berpisah dengan saya akan segera bertemu dengan sosok lain yang lebih sempurna seperti dewi-dewi di surga. Hampir setiap malam terjaga sambil bermain pengandaian yang sia-sia. Dan diakhiri dengan sakit hati membayangkan siapa sosok yang menggantikan tempat saya di hatinya kemudian.

Pada titik ini, saya mulai kehilangan arah. Nggak memiliki tujuan hidup. Bahkan menganggap semua hal yang saya lakukan sangat payah dan nggak berarti apa-apa. Saya kehilangan hobi dan minat ditambah perasaan hampa yang mulai merongrong jiwa. Melakukan perbandingan diri dengan orang lain pun mulai jadi kebiasaan yang nyaris mengakar. Kalau digambarkan dengan ungkapan yang lebih kejam lagi, saya mulai membenci diri saya sendiri.

Karena benci dengan rutinitas, saya pun mulai melakukan banyak hal baru yang jarang dilakukan sebelumnya. Intinya adalah berusaha menemukan ketenangan batin lewat cara apapun. Mungkin inilah proses perlawanan dalam diri yang saya coba lakukan tanpa sadar agar tidak terpuruk terlalu lama. Setelah mulai puas bermain-main dengan rutinitas baru, perlahan pikiran waras mulai menghampiri satu per satu. Ada bisikan lembut yang berkata kalau saya nggak seharusnya seperti ini. Saya nggak seharusnya menyalahkan diri sendiri terus-menerus.

Jadi, berbekal bisikan itu saya mulai mencoba bangkit lagi. Hal pertama yang dilakukan pastinya membenahi mindset yang ada. Lalu berusaha melihat segala sesuatu dari sudut pandang yang berbeda. Saya banyak menikmati waktu untuk berbincang dengan diri sendiri, entahlah, mungkin proses pedekate dari awal supaya bisa menumbuhkan rasa cinta pada sosok ini kembali. Mungkin bisa dibilang kalau ini adalah cara yang klise, tapi serius saya memang melakukannya.

Tenyata, saya malah mendapatkan banyak ketenangan dari sana. Perlahan perasaan ikhlas itu pun mulai terasa. Perpisahan yang awalnya saya anggap sebagai luka, kini berubah menjadi sesuatu yang melegakan. Mungkin kami memang lebih baik berpisah daripada terus-menerus memaksa pada sesuatu yang dari awal sudah tak bisa. Pelajaran yang bisa dipetik adalah kamu boleh terluka karena kehilangan seseorang. Tapi, jangan melukai dirimu sendiri yang membuatmu justru kehilangan teman terbaik yang ada, yaitu dirimu sendiri. Kamu adalah sahabat terbaik bagi dirimu sendiri.

Tulisan ini dibuat untuk memenuhi #tantangannulis #BlueValley bersama Jia Effendie. Kalau kamu juga ingin nambah koleksi seperangkat novel yang ada di headline image buat menambah kegalauan di akhir tahun, ikutin #tantangannulis #BlueValley ini dan baca syarat lengkapnya di sini, yuk! Sst, cuma sampai 14 Desember 2016 aja, lho! *ngarep banget dapet bukunya*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *