Ketika Tuhan Memiliki Rencana, Percayalah Kalau Itu yang Terbaik…

Ketika Tuhan Memiliki Rencana, Percayalah Kalau Itu yang Terbaik...

Suara adzan Subuh sayup-sayup mulai terdengar memecah keheningan saat itu. Saya terduduk di kursi, menatap langit yang masih gelap, sambil menikmati lantunan adzan yang berkumandang di kejauhan. Di sebelah saya, ada Mas Galih yang menghisap rokoknya dalam diam. Tak ada satu pun yang bicara, seakan seperti sama-sama menikmati lengangnya fajar saat itu.

“Subuh pertama tanpa Eyang.” begitu yang terlintas dalam pikiran saya kemudian. Lalu satu per satu adegan beberapa jam sebelumnya mulai diputar ulang dalam kepala saya. Semuanya yang terjadi masih terasa begitu aneh buat saya.

Saya sendiri masih merasa amazing karena bisa melalui semua prosesnya dengan ‘baik-baik’ saja. Mulai dari menunggu operasi yang dimulai jam 9 malam, lalu panggilan dokter bolak-balik di tengah operasi yang memberi update informasi kondisi eyang. Hingga klimaksnya pada jam 01.45 dini hari, saat Eyang diumumkan meninggal karena nggak bisa melalui masa kritisnya.

Sekalipun shock, tapi saya masih bisa stay cool saat itu. Bahkan masih bisa menenangkan dengan sabar Dinda, adik saya yang histeris saat saya memberi tahunya kalau Eyang sudah nggak ada. Masih bisa mengantarnya pulang ke rumah, lalu kembali lagi ke rumah sakit. Mengurus semua yang perlu diurus di rumah sakit sampai membawa pulang jenazah Eyang.

Air mata pertama saya jatuh saat jenazah Eyang sedang didoakan di depan rumah untuk diantar ke tempat peristirahatan terakhirnya. Saat itu mobil jenazah sudah menunggu di depan rumah. Tiba-tiba ingatan tentang Eyang selama sakit satu per satu muncul. Lalu pikiran bahwa saat itu adalah terakhir kalinya saya bisa menemani Eyang rasanya bikin dada terasa sesak. Sepanjang perjalanan ke makam saya menangis di ambulans. Di samping jenazah Eyang yang sudah dikafani dan berada dalam keranda.

Penyesalan mulai muncul satu per satu. Perasaan kalau masih belum bisa mengurus Eyang dengan maksimal selama sakit setahun ini. Masih sering sibuk sendiri. Masih kurang telaten. Masih kurang perhatian. Kepergian Eyang masih jadi sesuatu yang nggak saya sangka bakal datang secepat itu. Biarpun Mama sudah punya firasat sejak dua minggu sebelumnya, biarpun seminggu sebelumnya saya juga sempat mimpi sesuatu, saya masih yakin kalau Eyang akan pulang ke rumah.

Ketika Tuhan Memiliki Rencana, Percayalah Kalau Itu yang Terbaik...
Photo copyright by pinterest.com

Saya juga nggak nyangka kalau Minggu sore itu, saat saya menunggu Eyang di rumah sakit, itu adalah terakhir kalinya saya membersihkan tubuh Eyang. Memotong kukunya, membasuh tubuhnya, mengganti popoknya, seperti yang biasa saya lakukan setiap hari. Dan saat pamit mau pulang ke rumah malamnya, saat mencium tangan Eyang, ternyata itu adalah terakhir kalinya saya mencium tangannya.

Ingatan itu masih terus membayang sampai sekarang. Apalagi pikiran tentang kenapa Eyang harus sakaratul maut di ruang operasi, saat nggak ada keluarganya yang menemani. Eyang pasti kesepian saat itu. Lalu ingatan permintaan terakhir Eyang di rumah sakit yang bilang, “Aku kok nggak muleh? Aku arep muleh ae.” (aku kok nggak pulang? Aku mau pulang aja) terasa begitu menyesakkan sampai sekarang. Iya, Eyang benar-benar pulang. Bukan ke rumahnya. Tapi ke sisi sang pencipta.

Kepergian Eyang adalah kehilangan yang pertama kalinya buat saya. Eyang yang sudah mengurus saya sejak saya berumur 2 tahun. Eyang yang sudah jadi pengganti ibu saya sejak kecil. Eyang yang hampir seumur hidup tidur sekamar dengan saya.

Tapi, saya percaya kalau Tuhan selalu punya jalannya sendiri untuk setiap umatnya. Apa yang terjadi memang lakon terbaik yang diberikan buat umatnya. Jadi saya juga berusaha meyakini kalau apa yang terjadi memang sudah digariskan seperti itu. Itulah yang terbaik untuk semuanya.

Kesedihan itu masih ada. Bahkan meninggalkan lubang yang begitu besar di dalam hati saya. Dari sini saya juga banyak belajar kalau umur orang tua ternyata nggak sepanjang yang kamu kira. Jadi, sekarang sudah waktunya kamu lebih memperhatikan mereka. Merawat orang tua yang sakit mungkin terasa melelahkan. Tapi percaya deh, semua itu bakal terasa sebentar. Kamu nggak punya waktu lama untuk melakukannya.

Sekarang sih Insya Allah sudah bisa lebih mengikhlaskan. Sambil terus berdoa semoga Eyang bahagia di sana. Karena sekarang hanya doa, alat komunikasi dan bentuk cinta yang paling kekal dari manusia. Hanya doa yang bisa menembus berbagai dimensi.

Eyang, aku kangen. Istirahat yang tenang ya… 🙂

3 thoughts on “Ketika Tuhan Memiliki Rencana, Percayalah Kalau Itu yang Terbaik…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *