Membaca Fenomena CELUP Dalam Bingkai Tugas Kuliah: Sebuah Opini Mantan Mahasiswa Yang Nggak Kritis-Kritis Amat

Membaca Fenomena CELUP Dalam Bingkai Tugas Kuliah: Sebuah Opini Mantan Mahasiswa Yang Nggak Kritis-Kritis Amat

Awalnya saya nggak begitu ngeh dengan berita soal CELUP ini. Saya kira sih cuma berita receh, tapi ternyata lama-lama makin viral di dunia maya. Begitu saya mulai ngeh, ternyata isunya sudah semakin panas dan jadi kontroversi. Dari situ saya penasaran dan mulai riset kecil-kecilan tentang CELUP ini.

Sekilas info aja sih, kali aja kamu juga sama awamnya dengan saya tentang CELUP. Jadi, CELUP merupakan sebuah kampanye anti asusila di Instagram yang mengajak masyarakat untuk cekrek, lapor, upload yang jadi akronim dari “CELUP”, jika melihat pasangan yang lagi mesra-mesraan di ruang publik. Kampanye ini sebenarnya diklaim punya tujuan yang mulia banget, yaitu mengembalikan fungsi ruang publik yang sesungguhnya. Caranya? Masyarakat diajak untuk memotret segala hal yang berbau ‘asusila’ yang terjadi di ruang publik, lalu mengirimkan fotonya ke akun Instagram CELUP.

Membaca Fenomena CELUP Dalam Bingkai Tugas Kuliah: Sebuah Opini Mantan Mahasiswa Yang Nggak Kritis-Kritis Amat

(c) Via Tirto.id

Sepertinya kampanye ini sudah berjalan dalam waktu yang lumayan lama, tapi baru benar-benar viral sejak dikupas tuntas dan dikritik habis-habisan dalam blog Plasticdeath. Blog ini mengkritisi tentang kampanye CELUP yang bisa berujung persekusi, menggunakan dasar hukum yang salah, dan melanggar privasi orang lain. Plus, mengunggah foto orang lain tanpa ijin bertabrakan dengan UU ITE.

Setelah negara api menyerang kampanye ini, akhirnya sang koordinator buka suara dan memberikan klarifikasinya. Intinya yang saya tangkap dari berita yang sudah saya baca sih, sebenarnya tujuan awal mereka hanya ingin mengembalikan ruang publik ke fungsi yang sesungguhnya, bukan pada subyek yang ada di foto tersebut. Penyataan ini rada janggal sih karena kontra banget dengan beberapa poster yang sudah beredar di dunia maya. Tagline yang tertulis besar-besar “Pergokin Yuk! Biar kapok!” itu menurut saya bukan fokus pada “ruang publik” seperti yang mereka bilang, tapi lebih ke “subyek” yang ada di foto itu.

Membaca Fenomena CELUP Dalam Bingkai Tugas Kuliah: Sebuah Opini Mantan Mahasiswa Yang Nggak Kritis-Kritis Amat

(c) Via Plasticdeath

Tapi, fokus saya bikin tulisan ini bukan buat mengkritisi kampanye mereka dan dampaknya sih. Kalau soal itu, Plasticdeath dan media lain sudah kupas tuntas yang lebih detail dan kritis. Saya mau membahasnya dari angle lain, yaitu tugas kuliah.

CELUP Ini Cuma Tugas Kuliah Ya, Cuma Tugas Kuliah. CATET!

Membaca Fenomena CELUP Dalam Bingkai Tugas Kuliah: Sebuah Opini Mantan Mahasiswa Yang Nggak Kritis-Kritis Amat
(c) Via Trivia.id

Dari pernyataan sang koordinator CELUP, Fadhli Zaky, yang saya kutip dari Tirto.id, menjelaskan kalau kampanye ini semata-mata hanya tugas kuliah. Dia juga mengklaim kalau CELUP sama sekali belum pernah memposting foto kiriman dari pelapor (*tsaah, bahasanya udah macem Playboy Kabel aja xD). Anyway, Fadhli ini memang tercatat sebagai mahasiswa Desain Komunikasi Visual Universitas Pembangunan Nasional Surabaya. Nah, waktu lagi riset berita ini tiba-tiba saya feeling nostalgic jaman kuliah gitu deh.

Saya alumni jurusan Ilmu Komunikasi, jurusan yang setipe tapi beda rupa sama Dek Fadhli ini. Nggak papa ya manggil ‘Dek’, biar lebih akrab. Saya dulu ambil peminatan Public Relations, dan jaman dulu aja udah banyak tugas aneh bin ajaib yang menyita pikiran dan hati para mahasiswa. Yang bikin event inilah, kampanye itulah. Oh ya, anak-anak Komunikasi kalau bikin event itu all out ya, the real event, yang harus nyewa gedung, nyari peserta, undang guest speaker, dan semua tetek bengeknya. Dananya dari mana? Swadaya lah. Kalau pun event berbayar, kami mengandalkan niat baik teman-teman untuk mau datang dan membayar tiketnya demi menambal pengeluaran kami yang maha besar jumlahnya.

Konsep the real campaign ini juga yang pasti dialami oleh Fadhli dan teman-temannya. Dia punya ide bikin kampanye anti asusila, lalu terciptalah konsep CELUP sedemikian rupa, dengan media promosi Instagram, Official Account Line, sampai nyebar brosur ke masyarakat yang nggak peduli-peduli banget, tapi lalu apesnya kelihatan dalam radarnya si Plasticdeath, dan dikritisi habis-habisan.

Well, ini sih bedanya tugas kuliah jaman old dan jaman now. Jaman saya aktif bikin praktikum macam gini dulu, nggak dulu-dulu banget sih, sekitar tahun 2010-2012an, medsos memang sudah ada, tapi penggunanya belum ‘seganas’ sekarang. Kami juga bikin brosur-brosur kampanye, tapi nggak sampai viral di medsos. Tugas kami juga aneh-aneh, tapi nggak sampai dibully netijen yang mulia. Beda banget sama sekarang yang sekali cekrek langsung viral dan kontroversi di mana-mana. Jadi, poinnya apa? Dunia sudah berubah, Nak. Jamanmu sudah beda dengan jaman kami.

Di era yang sudah semakin canggih, informasi bisa menyebar dalam hitungan detik, bahkan bau kentut di Malang saja bisa tercium seantero jagat maya, tentu generasinya harus semakin kritis menyikapi perubahan jaman. Kuncinya cuma satu wahai Adek mahasiswa, tajamkan kemampuan kritismu terhadap segala sesuatu sebelum mengeksekusinya.

Katanya, si Fadhli ini sudah memikirkan worst case-nya. Tapi kok menurut saya belum sampai ke situ ya. Buktinya banyak, salah satunya dari pernyataan klarifikasinya yang nggak sinkron dengan pelaksanaan kampanye yang sudah saya sebut di awal. Kelihatan banget dia nggak paham sama kampanyenya sendiri. Ya jelas lah kalau worst case-nya ternyata jauh lebih buruk dari skenario yang udah dia buat bareng timnya.

Konsep Oke, Tapi Eksekusi Nggak Sesuai. Tugas Ini Salah Jalan Pake Banget

Membaca Fenomena CELUP Dalam Bingkai Tugas Kuliah: Sebuah Opini Mantan Mahasiswa Yang Nggak Kritis-Kritis Amat
(c) Via Hipwee

Ibarat kata ya, kamu udah punya rencana mau traveling ke Jogja. Kamu juga sudah bikin itinerary mana saja yang bakal dikunjungi, misalnya mau belanja di Malioboro sampai wisata ke Kalibiru. Tapi, yang kamu beli malah tiket kereta ke Jakarta. Kamu benar-benar naik kereta itu dan sampai di Jakarta. Iya sih, sama-sama traveling-nya, tapi kan beda tujuan jauuuhh cyin.

Sama seperti kasus CELUP ini, saya melihat cara eksekusinya sudah beda dengan tujuan awal. Katanya tujuannya mau mengembalikan fungsi ruang publik karena terlalu sering jadi tempat pacaran. Fadhli bilang, penekanannya adalah pada FUNGSI RUANG PUBLIK. Kalau tujuannya begitu, ya salah jalan banget kalau kamu fokusnya ke orang-orang yang pacaran.

Skenario Alternatif Bikin Kampanye Positif

Membaca Fenomena CELUP Dalam Bingkai Tugas Kuliah: Sebuah Opini Mantan Mahasiswa Yang Nggak Kritis-Kritis Amat
(c) Via Brent White Design

Saya bukan ahli kampanye sih, toh kerjaan saya juga nggak berkaitan dengan bikin kampanye gitu. Tapi, siapa tahu sedikit perspektif yang saya berikan ini bisa jadi gambaran tentang bagaimana merancang sebuah kampanye yang baik dan benar supaya terhindar dari bully-an netijen jaman now yang maha ganas ini.

Angkat kampanye dengan angle positif adalah prinsip yang paling penting. Jangan bikin kampanye kamu kesannya mendiskriminasi atau melanggar hak golongan tertentu. Kalau mau bikin seruan, buat ajakan yang terukur dengan jelas. Jangan seperti cekrek lapor upload yang nggak ada indikatornya. Adegan seperti apa yang masuk kriteria yang dimaksud CELUP? Pegangan tangan boleh nggak? Atau harus yang cium-ciuman sampai raba-raba gitu? Terus gimana itu bedain pasangan halal sama nggak? Jangan-jangan malah pasangan yang tertangkap kamera lagi pelukan adalah adek kakak yang lama nggak ketemu, seperti kasus ‘sok tahu’ lainnya yang juga viral itu.

Kalau tujuannya mau mengembalikan fungsi ruang publik, ya fokusnya ke situ saja. Misalnya, bikin video animasi tentang fungsi ruang publik yang seharusnya itu seperti apa, bikin seruan untuk menciptakan ruang publik yang nggak kalah keren dari luar negeri, dan sebagainya, dan sebagainya. Kalau mau membahas larangan pacaran di publik pun nggak harus sampai ajakan upload fotonya. Intinya adalah bagaimana menyampaikan sebuah kampanye yang niatnya mulia agar kemasannya tetap positif dan nggak melanggar hak siapapun.

Bisa deh ambil contoh salah satu startup baru, Garda Pangan yang lagi populer jaman now. Gagasan awal inisiatornya, Dedhy Baroto, seorang teman yang sebenarnya nggak deket-deket banget dan sering bikin flaming di postingan saya sih, berawal dari keresahannya melihat banyaknya sampah makanan sisa di hotel dan restoran. Ironi, karena masih banyak masyarakat yang kelaparan. Kampanye Garda Pangan bukan malah ngajak masyarakat cekrek-cekrek sampah sisa makanan yang segudang itu kaaan… Pendekatan yang diambil ya mengajak orang-orang menyumbang sisa makanan yang masih layak dikonsumsi ke Garda Pangan. Jadi gitu lho, adek-adek sekalian…

Karena Sesungguhnya Dek, Tugas Kuliah Bukanlah Sembarangan Tugas Kuliah

Jadi begini ya Dek, tugas kuliah itu bukan sembarangan tugas kuliah. Apalagi yang menyerempet eksperimen sosial. Setiap tugas, eksperimen, dan penelitian yang kamu lakukan, kamu bertanggung jawab penuh di dalamnya. Mahasiswa harusnya punya level kritis yang beda daripada pasukan bani panci atau bani pentol korek api yang kerjaannya cuma bisa bikin kisruh di medsos. Filternya mahasiswa itu harusnya lebih kuat, karena kamu punya landasan logika ditambah teori yang ada. Nggak asal njeplak sak enak e ndasmu.

Selain itu, orang-orang yang berkecimpung dalam dunia akademis sosial juga harus selalu update dan melek dengan perkembangan jaman. Ya mahasiswa, ya dosennya. Dengan begitu, kamu bisa lebih peka dan kritis dengan fenomena sosial yang ada, jadi analisisnya bakal lebih tajam.

Kalau saya dulu sih, setiap ada praktikum membuat event atau kampanye tertentu, pasti ada sesi presentasi di kelas dulu dan kesempatan bimbingan dari dosen atau asdos. Nah, di sini harusnya jadi lahan penggodokan apakah ide kampanye kamu layak diteruskan atau nggak. Kalau pun dosenmu nggak memberikan sesi bimbingan, ya nggak ada salahnya kamu duluan yang ngajak diskusi kan, biar konsep kampanyemu matang. Tapi ya tetap sih, tugas mahasiswa itu tugas mandiri, jadi tanggung jawab tetap ada di tanganmu.

Saya jadi ingat, seorang teman yang sekarang jadi dosen pernah bilang begini.

“Ilmu komunikasi sekarang tuh sudah semakin berkembang. Basic-nya sudah bukan jurnalisme old school lagi, tapi sudah media online. Teorinya harusnya sudah berubah. Ya, teori dasarnya tetep sama, tapi kan teori tentang media online yang kekinian kita nggak tahu. Kaya aku nih, aku nggak ahli banget kalau masalah dunia digital, medsos. Iya aku memang pengguna, tapi bukan praktisi yang sehari-hari bekerja di lingkup digital. Jadi aku harus rajin update informasi dan ilmu dari praktisi jurnalisme online gitu. Tapi masalahnya, nggak semua dosen bisa seperti itu. Kadang aku ngerasa itu yang bikin lingkup akademis kita ketinggalan jauh dari realita yang ada.”

Pada intinya adalah, sebagai bagian dari generasi jaman now, alangkah baiknya kita harus selalu update dengan segala perkembangan yang ada. Jadi, kita nggak gagap saat menghadapi fenomena sosial yang muncul seiring perkembangan jaman dan mengkajinya dengan gagasan yang tepat.

 

4 thoughts on “Membaca Fenomena CELUP Dalam Bingkai Tugas Kuliah: Sebuah Opini Mantan Mahasiswa Yang Nggak Kritis-Kritis Amat

    1. Hahaha, ini cuma tulisan suka-suka. Soalnya kalau tulisan tentang dampak CELUP sih udah dibahas lebih kritis di media lain. ilmunya nggak nyampe ke situ xD

  1. Oh love you buk, ulasan yang menarik. mengingatkan pada masa-masa sulit sebagai mahasiswi yang kurang tidur karna nurutin tugas yang super duper aneh, yang notabenya udah kaya kerja beneran.

    1. Beneeer bangeet. somehow aku kasian sih sama adek-adek Celup ini. tugas jaman kita dulu juga aneh-aneh ya, untung nggak ada yang viral dan kena bully hahaha

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *