Meneruskan Studi, Kebutuhan Akademisi Atau Sekadar Gengsi?

Meneruskan Studi, Kebutuhan Akademisi Atau Sekadar Gengsi?

Beberapa waktu belakangan ini, demam Pokemon Go memang sedang mewabah di seluruh dunia. Waktu semua orang berminat untuk main game yang satu ini, saya malah nggak penasaran sama sekali. Justru saya penasaran sama perilaku orang-orang yang bisa melakukan berbagai hal ekstrem demi mengejar monster unyu tersebut. Dari yang mulai nangkep Pokemon di rumah mantan, ngejar sampek masuk mini market, bahkan ada yang pakai jasa ojek atau taksi online. Saya cuma mikir, “Kayaknya asyik dibuat penelitian, ya.”

Lalu mendadak saya jadi kangen masa-masa kuliah. Mengerjakan berbagai tugas penelitian, mengkaji berbagai fenomena dan menganalisisnya dengan teori. Membuktikan fenomena, kalau bisa mencari teori baru malah. Dan keinginan ini makin menjadi-jadi saat saya membaca buku Questioning Everything! Kreativitas di Dunia yang Tidak Baik-Baik Saja. Buku keren yang merupakan kumpulan deep interview milik Warning Magazine.

Bisa dibilang, buku itu merupakan produk jurnalistik yang keren banget. Deep interview atau wawancara mendalam bisa dibilang menjadi salah satu teknik wawancara yang nggak semua orang bisa. Kalau mau yang bener-bener deep agar bisa paham isi otak dan pikiran seseorang itu nggak bisa diperoleh secara instan. Serius. Saya tahu banget soalnya saya menggunakan teknik pengumpulan data ini waktu skripsi dulu. Dan ini yang bikin saya jadi ingin sekolah lagi. Penelitian lagi. Merasakan masuk dunia akademis di mana kita dituntut untuk memiliki pola pikir yang kritis.

Meneruskan Studi, Kebutuhan Akademisi Atau Sekadar Gengsi?
Questioning Everything via Bulak Sumur UGM

Tapi, itu hanya sekadar keinginan sih. Saya nggak pernah punya cita-cita untuk melanjutkan studi sejak dulu. Bisa keluar dari lubang buaya pendidikan strata satu saja rasanya sulit banget. Iya, waktu studi saya lebih dari lima tahun, yang dua tahunnya khusus mengerjakan skripsi. Hah, ngapain aja tuh bikin skripsi selama itu? Tahun pertama saya habiskan dengan berleha-leha, dan baru bener-bener mencoba ‘lari’ di tahun kedua. Tetap saja, saya telat lulus.

Jadi, rasa rindu mempelajari teori atau meneliti fenomena di lapangan memang ada. Tapi tidak mau berhubungan dengan birokrasi kampus yang rumit. Saya suka meneliti, tapi benci ujian. Penelitian memang wajib ada, sebagai sebuah tanggung jawab mahasiswa saat menempuh pendidikan. Tapi, kenapa tidak mengganti ujian yang sifatnya ‘membunuh’ mahasiswa dan hasil penelitiannya dengan diskusi yang bisa menghidupkan penelitian itu sih? Masukan dari dosen yang dianggap lebih mumpuni dari segi keilmuwan pasti bisa memberikan angin segar buat hasil penelitian yang sudah digarap habis-habisan oleh mahasiswa itu.

Meskipun nggak pernah ada keinginan untuk melanjutkan studi, tapi saya selalu mengapresiasi teman-teman yang masih memiliki semangat untuk menuntut ilmu. Perlu dicatat, menuntut ilmu ya, bukan sekadar mengejar gelar. Iya, ada beberapa teman yang memang perlu melanjutkan studi S2 demi cita-cita, misalnya saja jadi dosen. Atau misalnya bidang ilmu tertentu yang perlu melanjutkan jenjang S2 untuk meraih gelar profesi, misalnya yang saya tahu anak-anak jurusan Psikologi. Orang-orang seperti ini biasanya akan dengan gigih mengejar beasiswa supaya bisa kuliah lagi.

Meneruskan Studi, Kebutuhan Akademisi Atau Sekadar Gengsi?
Meneruskan Studi, Kebutuhan Akademisi Atau Sekadar Gengsi? via Thought Catalog

Tapi selain itu, ada juga orang-orang yang memilih daftar S2 karena mereka nggak kunjung diterima kerja. Hah? Iya, kalau saya perhatiin sih ada juga yang macem begini. Entah sih bener atau nggak. Tapi, miris rasanya kalau memilih meneruskan studi hanya karena nggak mau dicap pengangguran terlalu lama. Akhirnya ya mencari kesibukan lain biar nggak kelihatan nganggur. Gimana pun juga, mahasiswa adalah salah satu jenis pengangguran terselubung yang memiliki posisi paling ‘aman’. Jadi, nggak perlu malu saat ditanya statusnya oleh tetangga atau keluarga yang kepo. Jadi mahasiswa program magister udah kedengeran keren kok.

Iya, apa pun keputusan yang diambil, mau melanjutkan studi atau nggak, berdasarkan alasan apapun itu, memang semuanya adalah hak prerogatif masing-masing orang. Bukan urusan saya juga sih. Hanya saja menyayangkan banget kalau memang ada di antara kamu yang punya pola pemikiran seperti itu. Dan semoga saja nggak ada orang-orang seperti itu. Semoga kamu memilih untuk meneruskan studi karena memang ada panggilan hati untuk menuntut ilmu setinggi-tingginya. Karena rasa ingin tahu dan belajar yang begitu kuat, bukan hanya untuk menutupi status yang nggak kunjung dapat pekerjaan setelah lulus S1 saja. Biar bagaimana pun juga, ilmu kamu selayaknya jadi bermanfaat. Bukan hanya buat diri kamu saja, tapi juga orang di sekitar.

5 thoughts on “Meneruskan Studi, Kebutuhan Akademisi Atau Sekadar Gengsi?

  1. saya sebenernya pgn nerusin kuliah lg 😀
    sbagai mantan peneliti, emang seru ya pas penelitian, setiap wawancara org selalu dpt hal baru…
    tp siapa yg mau ngasih beasiswa s3 buat ibu rumah tangga :))

    1. iya, ada hal2 yang menyenangkan waktu lagi wawancara orang ya, Kak. Tapi, nggak harus kuliah lagi sih menurut saya, bisa dialihkan ke hal lain. Meneliti/wawancara buat diposting di blog misalnya. 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *