Menghadapi Fake Break Up

Menghadaoi Fake Break Up

Pernah nggak sih kamu mengalami kejadian seperti ini? Bertemu seseorang, lawan jenis ya, yang nyambung banget diajak ngobrol. Kamu merasa kalau kalian bisa saling terkoneksi dengan baik. Mungkin semacam mutual feeling di mana dia juga merasakan kenyamanan yang sama. Kalian jadi dekat, komunikasi yang terjadi pun terbilang cukup intens. Keluar bareng juga sering. Bahkan terjadi kontak fisik yang umumnya dilakukan mereka yang pacaran. Pegangan tangan, misalnya.  Tapi, di antara kalian nggak ada yang berusaha berkata apapun. Hanya menjalaninya begitu saja.

Lalu, suatu hari, si pria ini berhenti menghubungimu. Kalian jadi seperti sosok asing yang nggak pernah kenal sebelumnya. Kamu sendiri nggak berani bertanya perihal hubungan yang tiba-tiba mandeg ini. Kamu hanya bisa merasakan perasaan absurd yang muncul. Seperti orang yang baru putus dari pacarnya. Masalahnya, kalian bahkan nggak pernah jadian.

Nah, ini dia yang bisa disebut sebagai fenomena fake break up. Seperti orang yang baru putus dari pacarnya, tapi bahkan mereka aja nggak pernah jadian. Fenomena semacam ini cukup sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Mungkin ada beberapa dari kamu yang berpikir, kok mau sih menjalin hubungan yang nggak jelas gitu? Well, anggap saja dunia itu nggak selamanya hitam dan putih. Ada yang abu-abu juga kok. Banyak malah.

Menghadapi Fake Break Up
Fake break up, kamu salah satunya?

Lalu, apa kabar kamu yang mengalami fake break up? Masih belum sembuh juga dari galau?

Akui saja kalau kamu sedang galau. Beberapa orang memiliki kecenderungan untuk mengelak apa yang sebenarnya sedang mereka rasakan. Misalnya, kamu berusaha meyakinkan dirimu sendiri kalau menghilangnya si dia itu nggak ada pengaruh apa-apa buat kamu. Toh kalian nggak ada hubungan apa-apa, gitu yang kamu pikir. Padahal, jelas-jelas kamu sudah terlanjur sayang sama dia.

Mengelak perasaan sendiri sebenarnya juga wajar terjadi sih. Semacam mekanisme pertahanan diri, di mana kamu berusaha meyakini suatu fakta untuk menghindari dirimu sendiri terluka karena fakta yang berbeda. Tapi, cara bertahan diri yang seperti ini nggak banyak membantu. Mengingkari perasaan sendiri nggak akan memberikan kedamaian apa-apa.

And the feeling isn’t fake. Iya, kamu baru saja kehilangan kontak dengan orang yang sebenarnya bukan siapa-siapa kamu. Seharusnya kamu nggak perlu sedih? Kata siapa? Perasaan yang kamu rasakan saat ini nyata, lho. Iya, akui sekalian kalau kamu patah hati karena ‘diputus’ begitu saja oleh seseorang yang selama ini sudah bersamamu. Biarpun kesannya hubungan kalian semu, tapi perasaanmu nyata.

Terlibat dalam fake relationship sebenarnya membuatmu memahami konsekuensinya dari awal. Kalau pacaran resmi, kalian mendeklarasikan hubungan itu lewat kata-kata yang eksplisit. Sementara mereka yang terlibat dalam fake relationship nggak memiliki ‘ikrar’ secara tertulis apalagi terucap. Tapi, mereka menyepakatinya lewat perilaku atau sikap tertentu. Ya seperti kontak fisik layaknya orang pacaran, misalnya pegangan tangan, saling merangkul, dan sebagainya. Selama mereka sama-sama nyaman, maka selama itu pula fake relationship ini berlangsung.

Nah, karena sudah memahami konsekuensinya ini, harusnya kamu bisa menerima kenyataan lebih mudah saat hubungan itu berakhir. Harusnya sih. Tapi, begitulah manusia. Kamu mungkin sudah tahu apa yang akan terjadi, tapi kamu nggak pernah siap dengan bagaimana rasanya. Kamu tahu suatu saat fake relationship ini akan berakhir, tapi kamu tetap nggak siap saat benar-benar berakhir. Merasakan perasaan ini juga nggak salah kok.

Berdamai dengan pikiran dan hatimu sendiri itu sangat perlu. Mungkin ada saatnya kamu merasa membenci dirimu sendiri dengan segala kebodohanmu mengapa mau terlibat dalam hubungan semacam itu. Nah, pada momen inilah kamu perlu berusaha untuk berdamai dengan segala pergolakan yang ada dalam hatimu sendiri. It’s okay not to be okay.

Jika kamu membutuhkan waktu untuk sendiri sementara waktu, gunakanlah. Nggak masalah kok kalau kamu mau shut down sejenak dari dunia. Kamu bebas menangis sepuasmu. Tapi ingat, kamu harus tetap bangkit lagi dan move on. Hidup terlalu berharga hanya untuk meratapi nasib dari fake break up saja.

Menghadapi Fake Break Up
Fake break up

Lalu, bagaimana jika timbul keinginan untuk menghubungi kembali si pria yang sudah memutus kontaknya denganmu?

Well, kalau itu sih semuanya tergantung pada kondisimu sepenuhnya. Ada banyak alasan mengapa fake relationship terjadi. Dan jika kondisimu memungkinkan untuk menghubunginya kembali, mempertanyakan perasaannya yang selama ini belum sempat terucap, nggak masalah. Tapi, perhatikan dua hal ini dulu. Pertama, pikirkan dengan baik sebelum kamu benar-benar menghubunginya. Pikirkan tentang kesiapan hatimu. Dan kedua, jika memang kamu benar-benar sudah yakin untuk menghubunginya lagi, siapkan juga hatimu untuk menerima apapun jawabannya bahkan kemungkinan paling buruk sekalipun. Misalnya, jika tiba-tiba dia bilang kalau sebenarnya nggak sesayang itu sama kamu, nggak sesayang seperti yang kamu pikir. Sakit sih memang. Pasti. Tapi lebih baik kan daripada kamu mati penasaran seumur hidup?

Satu hal yang perlu kamu tahu dan selalu saya percaya. Love will find a way. Sehebat apapun perpisahan yang pernah kalian alami, jika memang dia untukmu, dia pasti akan kembali. Suatu hari nanti. Dengan cara yang paling indah dan menakjubkan yang nggak pernah bisa kamu bayangkan. Tapi jika bukan, sehebat apapun kamu menahannya, dia akan tetap pergi juga.

One thought on “Menghadapi Fake Break Up

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *