Menjadi Penulis yang Tidak Pernah ‘Menulis’

Menjadi Penulis yang Tidak Pernah ‘Menulis’

Pertama kali saya jatuh cinta dengan menulis adalah ketika saya menyadari kalau imajinasi yang saya miliki bisa menjadi nyata dalam wujud tulisan. Ada perasaan amazing saat melihat rangkaian kata-kata yang saya kembangkan bisa terwujud serupa dengan apa yang dibayangkan. Meskipun jatuh cinta sedalam-dalamnya dengan menulis, tapi saya nggak pernah kepikiran akan mendalami profesi ini seperti sekarang. Yes, i’m a professional writer.

Setelah bekerja, saya kenal dengan seorang teman perempuan yang kariernya cukup cemerlang di sebuah startup. Mungkin karena dia seorang workaholic yang hidup untuk bekerja. Waktu itu sih saya menganggapnya ‘sinting’, karena salah satu alasannya gila kerja adalah dia jadi bisa melupakan hal-hal nggak menyenangkan dalam hidupnya. Mulai dari masalah keluarga, sampai batal nikah dengan pacarnya. Sinting, kerja kok buat pelarian? Gitu, pikir saya dulu.

Tapi lama-lama, saya jadi kecanduan nulis juga. Bermodal keinginan untuk melihat tulisan saya di mana-mana, tiba-tiba saya jadi gila mencari proyek freelance di luar kantor. Satu dapat, lalu mencari yang lain. Memang kebanyakan hanya temporer, tapi tetap aja banyak menyita waktu sebagian besar waktu saya. Dari situ, ternyata saya bisa melupakan hal-hal nggak terlalu penting yang bisa mengganggu pikiran. Termasuk teralihkan dari kegalauan ‘kapan nikah?’ yang sering ditanyakan orang-orang di sekitar. Ngapain mesti galau kalau ternyata sendiri masih begitu asyik?

Tapi yang namanya manusia pasti selalu melakukan koreksi diri dengan apa yang sudah dilakukan. Menjadi penulis ternyata membuat saya tidak pernah ‘menulis’. Menulis tanda kutip di sini merujuk pada karya pribadi. Saya terlalu banyak menulis untuk orang lain. Terlalu sering bercerita tentang sosok lain. Yang akhirnya membuat kegiatan menulis jadi begitu melelahkan, tapi tidak lagi membahagiakan.

Menjadi Penulis yang Tidak Pernah ‘Menulis’
Menjadi Penulis yang Tidak Pernah ‘Menulis’. Image: mirror.co.uk

Kehilangan waktu untuk menulis karya pribadi menjadi salah satu bentuk pengkhianatan terbesar dalam diri saya. Saya hanya mengisi blog di kala-kala tertentu: ada mood, atau sedang galau. Curang. Saya merasa sangat curang dengan diri sendiri. Padahal, saat lagi luar biasa sedih, tidak paham kenapa, dan tidak tahu harus bercerita dengan siapa, menulis menjadi satu-satunya hal yang bisa saya lakukan. Menulis menjadi satu-satunya pelipur lara, saat party dan hura-hura rasanya sudah terlalu melelahkan untuk dilakukan. Saya hanya tinggal ke pojokan kafe yang sepi, ditemani laptop dan kopi, lalu tulisan yang mengalir seakan dapat menjadi meditasi yang menenangkan hati. Meskipun karya yang ada terbilang random, tulisan-tulisan nggak jelas yang bahkan tidak menarik minat orang lain untuk membaca.

Menulis seharusnya bisa menjadi media untuk menumpahkan isi kepala saya seutuhnya. Tanpa ada editing, tanpa ada pembredelan. Setidaknya, saya harus memberikan ruang itu untuk membahagiakan diri sendiri. Writing for soul that makes you happy.

Jadi, itulah yang membuat saya untuk memulai #NulisRandom2017 selama 30 hari ke depan. Mari menulis dan bahagia!

Baca Ini Juga Dong…

Tentang Menuntaskan Rindu dan Dendam Menjadi Satu

Break Menulis Itu Nggak Dosa Kok!

Berbagai Keuntungan yang Bisa Diperoleh dari Selembar Kartu Nama

Tips Solo Traveling Anti Nyasar Buat yang Nggak Pernah Kemana-Mana

 

One thought on “Menjadi Penulis yang Tidak Pernah ‘Menulis’

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *