Pengalaman Absurd Si Gadis yang Baru Berkacamata

Pengalaman Absurd Si Gadis yang Baru Berkacamata

Mungkin hampir sebulan ini saya resmi jadi gadis berkacamata. Kalau ditanya gimana rasanya, jawabannya cuma amazing. Selama ini saya percaya dan yakin 100% kalau mata ini baik-baik saja. Kalau pun ada nggak jelasnya, mungkin hanya karena lelah seharian lihat monitor. Gitu sih pikir saya waktu itu. Ternyata nggak gitu juga sih hasilnya.

Jadi, gejala penglihatan yang udah nggak begitu jelas ini sebenarnya mulai terasa sejak kuliah akhir. Pas lagi ngerjain skripsi. Waktu itu sih saya mikirnya mata mulai jereng karena kebanyakan baca literatur seabrek yang bikin pusing. Terasa anehnya gara-gara nggak pernah jelas lagi melihat wajah orang dalam jarak beberapa meter. Jadi saya selalu nggak yakin siapa yang papasan sama saya, kecuali kalau udah kenal baik dan bisa mendeteksi perawakannya dari jauh biarpun nggak jelas wajahnya.

Begitu kerja, saya ternyata jodoh banget sama monitor komputer. Minimal delapan jam sehari saya melihat benda cakep itu. Kalau udah terlalu lama, kadang tulisan jadi blur. Semacam berbayang dan nggak jelas gitu. Tapi waktu itu sih pikir saya lagi-lagi hanya mata lelah. Waktu akhirnya saya selalu nggak bisa melihat running text di televisi pun pikir saya mungkin karena jaraknya terlalu jauh atau tulisannya terlalu kecil. Iya, semua saya anggap sepele dan enteng. Selama saya masih nyaman membaca buku sambil tidur, saya kira nggak ada masalah apa-apa. Padahal, jarak buku ke mata udah makin dekat aja tanpa disadari.

Gejala lainnya juga udah seliweran, tapi lagi-lagi saya nggak ngeh. Misalnya, tiap jalan ke mall, sebenernya lihat orang itu udah kabur semua. Tapi waktu itu saya kira lampu mall yang kurang bagus. Terus, lihat tulisan di monitor pun udah berbayang dan goyang-goyang. Tahu apa yang saya kira? Saya yakinnya sih monitornya yang jelek sampai bikin tulisannya nggak jelas gitu. Padahal, memang mata saya yang udah nggak sehat lagi.

Setelah tahu tanda-tanda gitu, akhirnya pacar saya yang baik hati dan pengertian itu menyeret saya supaya periksa mata. Nggak diseret secara harfiah sih, tapi intinya memaksa dengan segala kemampuan yang ada supaya saya segera ke dokter. Iya, dia tahu pacarnya ini alergi banget sama rumah sakit dan dokter apa aja, makanya dia menggunakan paksaan super yang akhirnya bikin saya nyerah dan periksa. Bener aja sih, mata saya silinder teman-teman. Nggak tahu silinder berapa, lupa ukurannya. Yang paling unforgettable adalah komentar dokternya, kurang lebih seperti ini.

“Mbaknya beneran sebelumnya nggak pernah periksa mata atau pake kacamata? Soalnya hasilnya di komputer ini lumayan, lho. Mbaknya hebat ya, tahan nggak enak.”

Iya Dok, saya memang tahan banget nggak enak. Pas banget jadi kriteria calon istri idaman yang siap berjuang dari nol sama suami kan ya. *eaaaa

Setelah sebulan pake kacamata, saya baru nyadar sesuatu. Dunia ini ternyata begitu indah kalau dilihat dari mata yang nggak blur. Ternyata bisa bening dan jelas gitu ya. Sekarang mulai terbiasa banget pakai kacamata. Bahkan dibilang mulai manja, karena dikit-dikit ngerasa butuh kacamata. Ya biarpun kalau dipakai beraktivitas yang banyak gerak masih suka pusing gara-gara lihat jalan yang bergelombang. Awalnya malah sempet kesandung-sandung sendiri padahal nggak ada apa-apa.

Jadi, intinya sih mata sehat itu penting. Dunia ternyata lebih indah kalau bisa dilihat dengan jelas. Serius.

Baca Juga Dong…

Tips Solo Traveling Anti Nyasar Buat yang Nggak Pernah ke Mana-Mana

Mencari Identitas, Antara Ambisi dan Mawas Diri

Drama yang Cuma Bisa Dirasakan Mereka yang Nggak Bisa Nyebut Huruf ‘R’

Berbagai Keuntungan yang Bisa Diperoleh dari Selembar Kartu Nama

4 thoughts on “Pengalaman Absurd Si Gadis yang Baru Berkacamata

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *