Pindah Rumah dan Susahnya Move On dari Rumah Lama

Pindah Rumah dan Susahnya Move On dari Rumah Lama
Spread the love

Tahun ini rasanya banyak banget hal besar yang terjadi dalam hidup saya. Dan kalau dipikir-pikir sih, semuanya bermuara pada satu hal. Pindah. Mulai dari pindah secara eksplisit sampai ‘pindah’ yang implisit. Semuanya juga menuntut pada penyesuaian diri kembali, seperti mulai dari nol lagi. Dan kepindahan yang ingin saya bahas adalah pindah rumah.

Setelah 10 tahun tinggal di rumah lama yang letaknya di tengah kota, sekarang saya sekeluarga pindah ke daerah Gadang, Malang. Buat yang tinggal di Malang pasti bisa membayangkan ya Gadang itu daerah seperti apa. Daerah yang melipir sedikit ke pinggiran, tapi masih dalam wilayah kota Malang. Iya, serius, masih kota kok.

Setelah minggu-minggu yang melelahkan menyiapkan pindahan, ngepak-ngepak barang, sampai beneran pindah, rasanya masih nggak rela aja sih meninggalkan rumah lama. Jadi rumah lama saya di daerah Sulfat, daerah yang strategis banget mau ke mana aja dekat. Ke kantor cuma 10 menit, cari J-Co di Sawojajar cuma 15 menit, main ke Matos paling 20 menit.

Hari pertama PP Gadang-Arjosari (kantor saya di daerah Arjosari), kerasa banget ya beda jaraknya. Kalau dulu cuma melewati 3 lampu merah dan saya bisa sampai rumah dengan selamat, sekarang harus melewati banyak lampu merah, dengan jalanan yang lebih ramai dan padat. Jalanan ke arah sana itu ramai dengan bis dan truk besar. Belum lagi kendaraan lain seperti motor, mobil, angkot, yang minim tenggang rasa di jalan. Buat pengendara motor seperti saya yang nggak pernah main jauh-jauh dari rumah, perjalanan ke Gadang itu penuh tantangan. Hahaha

Yang paling terasa sampai sekarang pasca pindahan adalah, saya masih kangen suasana daerah sekitar rumah. Kangen beli jajan di warung depan, kangen pangsit mie Witing Trisno yang mangkal di pojokan Grindulu, kangen lalapan belut Wanto di Sulfat depan, kangen tahu telor yang jualan deket SD Bunulrejo 3, kangen cilok Buk Ti di bawah, kangen tokonya Bu Yul yang serba lengkap, kangen pempek di jalan turunan, kangen pisang goreng coklat keju di Sulfat. Iya, semuanya makanan favorit 10 tahun belakangan ini. Sering mikir juga, masa iya kalau nanti kepengen tiba-tiba, harus PP Gadang-Sulfat cuma beli jajan harga 5 ribuan. Wakakakaka

Intinya, pindah rumah ini rasanya nyaris sama seperti putus dari seseorang yang disayang dan bikin nyaman, tapi hubungan sudah nggak bisa dilanjut lagi sekeras apapun kamu berusaha melanjutkannya. Tapi biarpun susah move on, bukan berarti kamu nggak bisa bahagia dengan hubungan yang baru kan? Semua hanya masalah waktu dan kebiasaan. Lama-lama pasti akan terbiasa dan nyaman juga dengan sendirinya.

2 thoughts on “Pindah Rumah dan Susahnya Move On dari Rumah Lama

Leave a Reply to Wuri Anggarini Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *