Gundala: Bagaimana Joko Anwar Menerjemahkan Film Superhero Lokal?

Review film Gundala
Spread the love

*disclaimer: tulisan ini dibuat dari sudut pandang sebagai penikmat film, bukan sok-sokan ala kritikus. Hanya review ala-ala buat ngisi blog yang mati suri lama.

“Gundala mau dibuat film? Hmm…”

Kira-kira gitu sih reaksi saya waktu pertama kali lihat potongan video aksi bela diri Gundala sekitar beberapa tahun lalu. Waktu itu belum ada berita resmi kalau mau dibuat film, biarpun netizen udah berspekulasi sendiri kalau pasti bakal jadi film. Sampai akhirnya statement resmi tentang film Gundala muncul. Digarap oleh sutradara sekaliber Joko Anwar dan menggandeng Abimana Aryasatya. Saya masih belum terlalu terbawa euforia.

Iya, film yang punya judul resmi GUNDALA: NEGERI INI BUTUH PATRIOT memang karya asli anak bangsa. Harusnya sebagai yang ngakunya penikmat film bangga dong kalau ada insan perfilman yang berani main di genre itu. Oke, film lokal. Tapi buat saya, tema superhero itu lain soal. Bukannya skeptis, tapi justru memancing satu pertanyaan besar yang bikin kening saya berkerut: formula apa yang bakal dibawa Joko Anwar untuk menerjemahkan sebuah karya jagoan lokal?

Formula = Sihir untuk Penonton

Kalau menurut saya sendiri, formula ini ibarat sihir apa yang disajikan sutradara buat penonton. Faktor ini bisa dibilang penting buat membangun jalinan cerita yang utuh. Apalagi setelah terpapar gempuran Marvel Cinematic Universe yang berjaya selama 1 dekade terakhir. 10 tahun bukan waktu yang sebentar buat ‘meracuni’ perspektif kamu sebagai penikmat film, cuy! Marvel terbukti sukses dengan franchise MCU yang dibangun dengan penuh ketabahan dan kesabaran selama 10 tahun terakhir. Tapi bicara formula, menemukan formula yang pas adalah perjuangan yang lebih panjang lagi kalau mau flashback lebih jauh.

Film superhero Hollywood sendiri pernah mengalami masa suram. Coba deh kalau kamu nonton film-film DC Comics ‘klasik’ macam BATMAN (1989), BATMAN RETURNS (1992), atau BATMAN FOREVER (1995), rata-rata review-nya kurang oke. Superhero yang ditampilkan memang comical banget, tapi dari segi keseluruhan cerita nggak memuaskan penontonnya. Film DC sendiri mulai bangkit lewat suksesnya Trilogi Batman karya Christopher Nolan yang punya formula unik: dark, depresif, tapi tetap terasa nikmat ditonton. Biarpun sebenarnya formula ala Nolan ini juga nggak lepas dari kritik karena Batman yang ditampilkan kurang heroik, kurang komik.

Review film Gundala
Batman (1989), bukan film gagal. hanya tak sukses. via (c) Movie House Memories

Bandingkan juga era Marvel lawas. HULK, INCREDIBLE HULK, semuanya panen kritikan. Spiderman-nya Tobey Maguire lumayan sih, tapi itu pun lisensinya masih dipegang Sony Pictures dan franchise itu langsung mandek saat Sam Raimi ‘pensiun’ dari kursi sutradara.

Sudahlah, di era suram itu bahkan peran superhero pernah ditolak Tom Cruise dan Leonardo DiCaprio. Mungkin karena dianggap kurang prospektif dan iya terlalu ‘bahaya’ karena masih banjir kritik negatif.

Lalu boom! Marvel bangkit lewat Marvel Cinematic Universe-nya yang berhasil membangun sebuah formula segar: film superhero yang dikombinasikan action, CGI, dan sisipan komedi. Bonus after credit scene yang bikin penonton setia duduk sampai credit title-nya benar-benar habis. Ditambah cerita yang saling berkaitan dari film satu ke film yang lain. Bikin makin penasaran setelah filmnya berakhir. Formula ini ternyata mampu membalikkan kesan film superhero yang tadinya underrated jadi layak ditunggu di setiap premiere-nya.

Suksesnya formula superhero ala Marvel ini bahkan juga ikut diaplikasikan DC Comics lewat DC Cinematic Universe-nya. Film superhero DC nggak lagi terkesan dark seperti era Christopher Nolan. Ya, biarpun mereka mengikutinya dengan ngos-ngosan sih menurut saya.

Daaan pertanyaan besar saya tentang bagaimana Joko Anwar meramu formula superhero di film Gundala ini akhirnya terjawab setelah nonton filmnya. Jujur, saya nggak punya ekspektasi atau spekulasi apapun saat membuat keputusan untuk nonton. Hanya ada pertanyaan hasil diskusi bareng Mas Partner beberapa hari sebelum premiere Gundala.

“Kira-kira Joko Anwar berani nggak bikin pakem film yang unik?”

Jadi begini jawabannya.

Overview:


Gundala adalah film superhero lokal yang menghibur. Joko Anwar kelihatan serius dan niat bikin film ini (atau mungkin terobsesi?). Lalu soal formula? Masih menggunakan pakem dari Marvel. Ada sisipan humor biarpun beberapa bagian masih terkesan kurang natural, saya seperti dibuat terpaksa tertawa karena ‘harusnya’ itu scene yang lucu.

Premis Cerita:

Premis cerita masih memakai rumus penegakan keadilan, di mana ada pergulatan batin di dalam hati Sancaka antara berbuat keadilan atau mengabaikannya saja karena merasa nggak berdaya. Saya rasa ini masih premis paling basic untuk sebuah film superhero ya. Mungkin karena masih yang pertama, jadi belum mengenal konflik yang lebih kompleks. Oke, masih bisa diterima.

Karakter:

Kalau soal karakter si Sancaka ini sendiri saya belum bisa bilang ada ciri khasnya sih. Ciri khas ini maksudnya kalau dari case study Marvel (yaelah Marvel lagi), seperti Tony Stark yang langsung kelihatan narsis sejak pandangan pertama, Steve Roger yang old school, atau Thor yang dewa tapi bengal. Ciri khas ini belum bisa saya lihat dari Sancaka. Tapi kalau melihat hasil wawancara Joko Anwar di salah satu media, Sancaka ini tipikal superhero yang vulnerable but strong. Masih terlalu general ya buat jadi sebuah ciri khas. Tapi ya sudahlah, mungkin karena memang baru film pertama. Easy girl, take it easy

Selain karakter si superhero, satu karakter penting yang wajib dibuat epik dalam sebuah film jagoan adalah sosok villain itu sendiri. Ya iyalah, kan dia yang memancing konflik. Sejauh yang sudah saya tonton, Pengkor (tokoh antagonis yang dihadapi Gundala) adalah tipikal orang tak bersalah yang tersakiti, lalu bertransformasi menjadi villain untuk melawan dunia yang dianggap nggak adil. Bukan dengan menegakkan keadilan, tapi ‘menyemai’ ketidakadilan itu. Karakternya belum bisa dibilang epik, mungkin karena memang baru villain level 1. Tapi, muncul villain lain menjelang filmnya berakhir. Saya tebak sih, mungkin dia bos-bosannya villain gitu.

Plot Cerita:

Mungkin karena memakai formula yang sama dengan film superhero pada umumnya, saya nyaris bisa nebak momen-momen penting yang muncul di filmnya. Ini ngeselin sih karena beberapa tebakan saya malah beneran ada di film. Termasuk kemunculan superhero cameo di akhir film, memang ada. *ketawa sedih di pojokan

Plotnya sih pada umumnya superhero ya. Penggambaran karakter Sancaka sendiri jelas kok, soalnya ceritanya dimulai sejak dia masih kecil. Dia yang sering dianiaya karena sok-sokan memperjuangkan keadilan, lalu belajar bela diri, sok-sokan mengabaikan waktu melihat orang teraniaya, lalu somehow tersambar petir dan dapet kekuatan sakti.

Lalu bagaimana dengan unsur kelokalannya?

Saya sih nangkepnya Joko Anwar berusaha memasukkan unsur lokal lewat adegan berantem yang didominasi pencak silat. Gundala yang super itu berantem dengan tangan kosong melawan keroyokan masa yang bawa berbagai macam alat. Intensitas berantemnya ini cukup banyak ya, dan saya sangat menikmati adegan berantemnya karena minim CGI.  Rasanya beda kalau dibandingkan film superhero barat pada umumnya. You know lah superhero Hollywood sudah banyak pake CGI yang di satu sisi memanjakan mata, tapi di sisi lain bisa begitu mengganggu kalau terlalu banjir.

Konflik yang ada juga berusaha dibuat selokal mungkin. Seperti demo buruh pabrik atau bentrok preman dan pedagang pasar yang berujung kebakaran. Masih Indonesia banget lah ya, soalnya urban story kebakaran pasar yang disengaja itu juga memang bener kejadian di negara kita kalau dibandingkan dengan invasi alien di tengah kota.

Tapi apakah cukup lokal buat saya? Hmmmmm ini bikin mikir keras. Setting kotanya, kehadiran anggota dewan yang korup dan tunduk pada penguasa, bikin saya jadi liat Gotham City versi lokal. Pun dengan kehadiran beberapa villain lain yang digambarkan sebagai anak buah Pengkor, bikin saya keinget Suicide Squad. Apalagi gaya gilanya Asmara Abigail memerankan Desti Nikita bikin saya inget Harley Quinn. Hmm oke, saya mungkin memang udah keracunan superhero barat level parah.

Kesimpulan:

Jadi kesimpulannya apa? Menghibur, iya. Tapi memang memasukkan unsur lokal dengan sentuhan modernisasi juga bukan pekerjaan gampang. Apalagi gempuran film superhero Hollywood selama ini, mau nggak mau, suka nggak suka, bikin jadi perbandingan. Buat saya sendiri yang masih mengganjal adalah formulanya (YAELAH BALIK LAGI TONG). Tapi mungkin memang pakem standar film superhero begitu ya. Atau mungkin kalau pakai kacamata Hanung Bramantyo yang selalu berpatokan pada komersil, film ini modalnya besar banget. Ini juga yang bikin Joko Anwar nggak mau terlalu gambling menciptakan formula cerita yang aneh-aneh, jadi lebih memilih pakem standar yang memang sudah familiar buat penonton Indonesia. Skor 7 deh buat effort Joko Anwar yang serius garap film jagoan asli Indonesia.

Lalu apakah akan menonton film Jagat Bumi Langit selanjutnya? Pasti. Karena pertanyaan besar lain udah muncul nih: bagaimana formula universe yang akan dibangun dalam Bumi Langit Cinematic Universe?

YAELAH FORMULA LAGI. Eh tapi ini penting lho, apalagi buat membangun universe itu harus ada hubungan antar film yang kuat. Coba lihat DC yang berusaha bikin DCU tapi keteteran menciptakan sebuah hubungan. Ujung-ujungnya filmnya di-reboot terus-terusan.

BCU sendiri udah kasih pengumuman resmi para pemerannya. Level dewa. Tapi lagi-lagi saya belum terbawa euforia. Pemain bintang kelas A bukan jaminan. Coba lihat itu Marvel. Robert Downey Jr., Chris Evans, Chris Hemsworth, bisa dibilang aktor kelas B sebelum masuk MCU. Atau Gal Gadot deh, hasil casting DCU paling sukses sejauh ini menurut saya, tadinya hanya jadi pemeran pendukung di franchise-nya Fast Furious. Tapi nama-nama itu berhasil membangun sebuah karakter superhero yang solid versi mereka masing-masing. Sekarang, siapa sih yang nggak kenal mereka dan karakternya dalam masing-masing universe?

Tapi kalau dipikir-pikir lagi, aktor dan aktris Indonesia memang terbatas sih pilihannya. Kalau bukan nama-nama itu yaaa… siapa lagi?

Biarpun begitu, saya tetap semangat kok nungguin rilisan BCU selanjutnya demi mendukung perkembangan film Indonesia. Siapa tahu ada plot twist atau racikan formula baru yang ditampilkan sutradaranya. Atau sesederhana kejutan scene saat Abimana tampil shirtless yang bikin saya berhenti bernapas mendadak. Nikmat mana yang kau dustakan?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *