Sebuah Keputusan dan Timing yang Tepat

Sebuah Keputusan dan Timing yang Tepat

Gara-gara beberapa hari ini nulis artikel tentang Gue DECIDE, saya jadi kepikiran beberapa hal. Buat yang belum tahu, Gue DECIDE ini adalah webseries hasil kolaborasi KapanLagi Network dan Slate yang menceritakan tentang dilema sosok ternama saat decide jalan hidupnya. Overall ceritanya inspiratif sih, sekaligus bikin kamu mikir dan bertanya dalam hati. Apa yang sudah kamu lakukan buat jalan hidupmu sendiri?

Pertanyaan ini bikin saya mikir jauh ke belakang. Tepatnya saat baru lulus. Waktu cita-cita terbesar saat itu adalah jadi seorang marketing promotion event yang merancang sebuah event promosi dari satu tempat ke satu tempat yang lain. Rasanya 3 tahun ke belakang, posisi promotion event lebih berserakan dibandingkan digital marketing seperti sekarang ini. Lalu tawaran itu datang, tapi hanya beberapa hari berselang setelah saya kerja di posisi saya yang sekarang. Kelanjutan ceritanya udah jelas ya. Saya stay di pekerjaan saya yang sekarang.

Bukan berarti saya menyesal bekerja sebagai seorang content writer, tapi kadang masih ada rasa penasaran gimana rasanya berprofesi sebagai seorang marketer. Hampir separuh dari masa kuliah saya kan mempelajari marketing komunikasi, marketing PR, dan sebagainya. Tapi, sekarang trennya sudah berubah ke arah digital marketing. Dan pekerjaan saya sekarang masih salah satu bagian kecil di dalamnya sih. Iya, meskipun kecil banget.

Selama 3 tahun bekerja, bukan berarti saya nggak pernah dapat tawaran pekerjaan lain. Kalau dibilang lebih menggiurkan sih, relatif ya. Kalau dari sisi materi mungkin nggak menggiurkan banget. Tapi kalau dari sisi pengalaman, pasti ada sesuatu yang dipelajari. Sayangnya, saya tolak semua karena banyak alasan. Ada yang karena berat meninggalkan keluarga (FYI, saat itu Eyang saya sakit), ada juga yang karena alasan sepele: Belum Siap.

Makin ke sini, dan setelah bikin artikel Gue DECIDE itu sih, saya belajar kalau kesempatan itu nggak nunggu dan datang saat kamu siap kok. Dari beberapa tawaran yang saya tolak, sebagiannya saya nggak menyesal menolak karena saya punya alasan yang pas dan tepat. Tapi sisanya kadang sering bikin saya wondering juga. Kalau beneran saya terima, sekarang kondisi saya gimana ya? Lebih maju atau malah lebih mundur dari sekarang? Well, yang jelas saya makin yakin dan percaya kalau nggak melangkah ke mana-mana adalah hal yang bikin kamu nggak berkembang. Itu adalah teori yang mutlak adanya.

Intinya, kesempatan, apapun itu bentuknya, nggak menunggu datang di timing yang tepat. Malah harus kamu yang mengejarnya. Ah ya, persoalan memutuskan dan diputuskan ini nggak melulu soal karier aja sih. Beberapa orang juga masih galau memutuskan jodohnya sendiri. Eaaa, ujung-ujungnya bahas jodoh lagi. Iya, nggak asik ah nulis kalau nggak merembet ke masalah jodoh. xD

Beberapa waktu yang lalu, seorang teman curhat sama saya karena pacarnya nggak kunjung melamar. Mereka sudah pacaran lama, lebih lama dari masa pacaran saya sama si Mas kalau nggak salah. Sebagai teman yang baik, pastilah saya memberi saran untuk berkomunikasi dengan pacarnya secara baik-baik. Setelah melalui masa negosiasi yang alot, akhirnya teman ini dan pacarnya sepakat kalau akan mulai menabung untuk menikah. Ditambah teman saya memberikan tenggat waktu maksimal kapan pernikahan itu harus dilakukan. Biarpun sudah mencapai kata sepakat, tapi teman saya tetap saja mengeluh. Dia nggak paham kenapa pacarnya lama sekali memutuskan untuk melamarnya.

Mendengar cerita teman yang satu ini, saya jadi ikut berkaca sendiri. Saya sih berada di posisi yang netral, karena sedikit banyak tahulah gimana galaunya cowok yang dimintai kepastian. Sama seperti beberapa tahun lalu saat pacar saya lagi galau-galaunya waktu saya bertanya “kapan kita menikah?” yang ujung-ujungnya diakhiri pertengkaran. Padahal cuma tanya, tapi dia sudah sangat sensitif. Yang saya tahu sih, nggak mudah buat seorang cowok memutuskan akan mengajak anak perempuan orang hidup bersama dan menanggung kebahagiaannya dunia akhirat. Nggak gampang. Sepertinya saya tahu dilema itu.

Lama-lama, pacar juga terbuka pandangannya dan mulai membahas pernikahan. Bahkan mulai merencanakan. Yang menurut saya sih, timingnya masih belum tepat. Waktu saya punya mimpi lain, waktu hidupnya juga dua kali lipat lebih ruwet daripada sebelumnya. Hal itu bikin saya nekat bertanya, suatu hari, seperti ini.

“Kamu yakin mau bikin rencana nikah pas kondisinya begini?”

“Emang mau nunggu kapan lagi?”

“Kan kondisinya gini, emang udah siap?”

“Kalau nunggu siap juga nggak bakal siap. Mau sampai kapan?”

Dari situ saya makin percaya, kalau timing itu fana. Keputusanmu hanya tergantung pada dua hal: keberanianmu untuk mengambil kesempatan, atau ketololanmu untuk meninggalkannya begitu saja.

Baca Juga Dong:

Tentang Momen yang Membuatmu Terluka

Belajar Mengabaikan

Menjadi Penulis yang Tidak Pernah ‘Menulis’

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *