Secangkir Kopi dan Hujan di Malam Hari

Secangkir Kopi dan Hujan di Malam Hari

Aku memandangmu yang tampak lusuh duduk di hadapanku. Rambut basah berantakan karena hujan di luar yang tak kunjung berhenti sejak sore tadi. Wajah tak kalah berantakan seperti kurang tidur berhari-hari. Baju lusuh seperti belum ganti seminggu. Yang terlihat lebih pasti dari ekspresimu malam ini, kamu tidak seperti penulis baru saja mencetak sejarah pre order 1000 eksemplar yang habis dalam waktu kurang dari 24 jam.

“Kopi?” seharusnya tanpa bertanya aku sudah tahu kamu akan mengiyakan. Dan benar saja, kamu langsung tersenyum penuh arti, yang aku maknai sebagai kamu sangat menantikan kopi buatanku.

Aku menggeleng sambil tersenyum pelan, beranjak dari dudukku dan menuju meja dapur untuk merebus air panas. Takaran 2:1 adalah favoritmu. Dua sendok teh full kopi hitam dan 1 sendok teh gula yang kemudian bertransformasi menjadi secangkir kopi hitam kental favoritmu.

Aku menuangkan air mendidih ke dalam cangkir berisi takaran 2:1 favoritmu. Seketika aroma kopi menyerebak memenuhi ruangan.

“Nyaa, harumnyaa… Cepetan, aku udah nggak sabar!” teriakmu penuh semangat. Tanpa perlu melihat langsung, aku sudah bisa membayangkan bagaimana ekspresi wajahmu saat bertemu kopi favorit. Ekspresi yang selalu melekat dalam ingatanku.

Aku membawa dua cangkir kopi dan berjalan mendekatimu. Duduk kembali di hadapanmu sambil menyodorkan secangkir kopi yang kamu gilai.

“Awas itu air mendidih, Bar!” ucapku spontan saat melihatmu sudah nggak sabar untuk menyeruput kopi yang aku buat.

Tapi kamu seperti nggak peduli. Setelah meniup-niupkan seadanya, kamu langsung menyeruput semaunya. Tiba-tiba aku bisa membayangkan bagaimana lidahku terbakar jika meminumnya dengan cara seperti itu.

“Nggak kok,” katamu setelah menuntaskan seruputan pertama. “Justru kopi hitammu lebih enak kalau dinikmati saat lagi panas-panasnya. Saat itu aromanya keluar, cita rasanya juga lebih maksimal. Itulah kenapa aku selalu ke sini, kangen dengan kopi buatanmu, Nya.”

Kalau aku tidak mengenalmu, aku pasti sudah meleleh. Seperti para pembaca perempuanmu yang selalu meleleh oleh tiap kata yang tertulis dalam novelmu.

“Jadi kenapa?” tanyaku tanpa basa-basi lagi.

“Aku kangen kopimu.” Jawabmu datar sambil terus menyeruput kopi yang aku buat.

“Bar, level hubungan kita sudah nggak di tahap itu lagi ya. Aku tahu ada sesuatu yang bikin kamu ‘harus’ kangen kopiku jam 1 malam begini.”  Ucapku setengah jengkel.

Kamu cuma tersenyum, lalu meletakkan cangkir kopi yang sedari tadi kamu genggam seakan takut kehilangan.

“Aku beneran kangen kopimu, Anya. Kamu tahu kan, kopimu yang selalu aku bajak kalau aku lagi nggak ada ide buat nulis. Setiap aku lagi buntu, bad mood, atau apapun yang bisa bikin aku nggak bisa nulis, aku harus minum kopimu. Kamu pikir, judul Secangkir Kopi dan Malam yang Hujan, itu bersumber dari mana? Ya dari kopimu, Nya.”

“Tapi sekarang kamu lagi nggak nulis.”

“Justru itu, Nya. Justru itu…”

Hening sesaat. Kita hanya saling berpandangan. Level hubungan kita memang sudah di tahap di mana aku bisa memahami isi pikiranmu hanya lewat tatapan mata saja. Kali ini aku meraih cangkir kopiku dan mulai menyeruputnya sedikit. Entah kenapa aku merasa frustasi.

“Jen.” Akhirnya aku mulai bersuara setelah meletakkan cangkir kopi itu kembali ke tempatnya semula. “Novel terbarumu masih tentang Jen. Kamu masih merindukannya.”

Kamu tertawa keras. “Kamu sok tahu banget deh, Nya.” Katamu di sela-sela tawa.

“Kamu masih belum bisa melupakan Jen, Bara. Akui sajalah. Novelmu masih tentang Jen, meskipun sudah dua tahun kalian putus. Tiga novel yang kamu rilis setelahnya masih merepresentasikan rasa kehilanganmu. Termasuk Secangkir Kopi dan Malam yang Hujan. Kopi selalu membuatmu teringat Jen.” Aku benci mengatakan rentetan kalimat itu, tapi aku mulai muak melihatmu terus mengelak.

Kamu diam sambil memandang cangkir kopi yang isinya hanya tinggal separuh saja. “Sejelas itukah, Nya?” tanyamu dengan nada lirih yang nyaris tak bisa kudengar.

Kali ini aku yang tersenyum. “Iya.” Kataku tegas.

“Mungkin aku memang merindukannya. Aku tidak tahu.”

“Jen ibarat kopi bagimu. Pahit, tapi justru itulah daya tarik yang membuatnya jadi candu bagimu. Itulah mengapa kamu sering datang padaku, karena kamu bisa menikmati takaran 2:1 favoritmu. Ditambah kamu punya teman bicara yang bisa mengalihkan rasa rindumu untuk sementara.”

Kali ini kita bertatapan lagi. Sungguh aku benci kamu yang setransparan itu. Karena mengetahui isi hatimu yang paling dalam hanya membuatku semakin frustrasi. Kenapa hanya aku yang bisa membacamu?

“Anya,” panggilmu lembut setelah meneguk kopi buatanku yang masih tersisa. “Sebenarnya kedatanganku sederhana kok. Aku hanya kangen kopimu, dan itu benar. Benar juga kalau kopi selalu mengingatkanku pada Jen. Tapi kedatanganku saat itu dan sekarang karena aku benar-benar ingin kopimu. Karena aku tahu kamu selalu menyimpan Kopi Kapal Api yang istimewa di rumahmu. Karena kita sama-sama pecinta Kopi Kapal Api yang Jelas Lebih Enak, meskipun takaran favorit kita beda.”

Aku cuma menatap lurus ke matamu sambil terus menyeruput kopiku. Memberikan kesempatan padamu untuk mengucapkan apa yang memang seharusnya ingin kamu ucapkan.

“Inget nggak sih Nya, pertama kali kita ketemu dulu, obrolan kita langsung tentang kopi. Dan kita semakin klop karena sama-sama suka Kopi Kapal Api yang Jelas Lebih Enak. Waktu itu kita semangat banget membahas keunggulan Kopi Kapal Api yang memang terbuat dari biji kopi pilihan dan dipilih dengan seksama untuk menciptakan secangkir kopi yang rasa dan aromanya juara. Inget nggak sih, kita bahkan sampai belajar tentang kopi Kapal Api dari situsnya?”

“Sampai ingin pergi ke pabriknya dan lihat proses pengolahannya langsung ya?” aku nggak bisa menahan diri buat menimpali.

“Pastinya! Kita penasaran banget gimana kombinasi biji kopi Arabica dan Robusta yang tepat benar-benar bisa menciptakan kopi dengan aroma yang begitu nikmat sekaligus rasa pekat yang bikin ketagihan. Saat itu kita benar-benar ingin jadi saksi langsung proses pengolahan kopi favorit. Kebayang juga kan, kalau kita sudah bisa melihat prosesnya, kita bisa lebih menikmati tiap cangkir kopi yang kita minum bersama.”

Kamu selalu menjadi sosok yang penuh semangat kalau sudah membahas Kopi Kapal Api yang Jelas Lebih Enak favoritmu.

“Jadi, sampai sekarang masih cinta Kopi Kapal Api yang Jelas Lebih Enak ya?” aku tersenyum. Sebagian karena mengingat flashback 3 tahun lalu saat pertama mengenalmu. Separuhnya lagi karena ada kamu di sini. Dan aku masih melakukan hal yang sama hingga detik ini. Menatap lurus ke dalam matamu. Membacamu.

“Pastinya. Kopi Kapal Api punya kekuatan magis yang bikin aku produktif beberapa tahun ini. Novel-novel itu, inspirasi itu, dari mana datangnya kalau bukan dari Kopi Kapal Api buatanmu yang Jelas Lebih Enak, Nya?”

Kamu menyesap sisa-sisa kopi terakhirmu. Lalu menyodorkan cangkir padaku.

“Habis, Nya. Buatin lagi dong.”

Dari ruangan ini, aku bisa mendengar hujan masih turun dengan sama derasnya. Seakan tak ingin menunjukkan tanda-tanda untuk berhenti sejenak. Aku mengalihkan pandanganku ke cangkir kopi yang kamu sodorkan lalu diam sesaat.

“Pulang deh, Bar. Aku mau tidur.” Kataku pada akhirnya sebelum beranjak dari tempat dudukku dan melangkah menuju kamar. Kamu terdengar protes, tapi aku memilih untuk mengabaikan.

#KapalApiPunyaCerita masing-masing buat kita. Di matamu hanya ada dua hal. Kopiku dan Jen. Lucunya, aku tidak bisa melihat diriku sendiri di sana.

***

One thought on “Secangkir Kopi dan Hujan di Malam Hari

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *