Selalu Ada Pelangi Setelah Hujan, Apalagi Saat Lebaran

Lebaran memang sudah lewat, tapi cerita tentangnya nggak akan pernah jadi basi. Apalagi Lebaran menjadi salah satu momen yang paling ditunggu umat Muslim setelah puasa sebulan penuh. Belum tentu juga kita bisa ketemu Lebaran tahun depan, kan? Hari Raya selalu dimanfaatkan untuk ajang silaturahmi atau kumpul bersama dengan sanak famili. Tapi, saya termasuk yang nggak pernah mudik kemana-mana sih.

Kalau beberapa tahun belakangan ini Lebaran terasa biasa saja buat saya, beda ceritanya di tahun ini. Ada suka dan duka yang bikin sedih sekaligus memahami makna pentingnya rasa syukur kita sebagai seorang manusia kepada sang pencipta. Iya, saya selalu percaya kalau selalu ada pelangi setelah hujan badai sekalipun, dan salah satunya yang saya alami adalah pada lebaran kali ini.

Keluarga yang Terasa Nggak Lengkap

Lebaran tahun ini punya cerita sendiri buat saya. Tahun ini ada salah satu anggota keluarga yang jatuh sakit, yaitu Mbah saya. Si Mbah terkena stroke dan serangan keduanya terjadi beberapa bulan sebelum puasa. Serangan pertamanya sendiri dialami 2011 lalu, tapi setelah itu Alhamdulillah Mbah bisa sehat kembali dan melakukan aktivitas seperti biasanya. Sayangnya, 5 tahun setelahnya Mbah terkena serangan lagi.

Umur memang nggak bisa bohong sih. Mungkin karena sudah sepuh juga, kondisi Mbah nggak bisa kembali seperti sedia kala. Walaupun dokter bilang syarafnya masih bagus, dan serangan kedua ini nggak separah yang pertama dulu, tapi mungkin karena usia juga, Mbah kesulitan untuk beraktivitas seperti dulu. Jadi, hanya terkulai lemah di kasur dan apa-apa harus dibantu. Termasuk nggak bisa ke kamar mandi dan makan sendiri juga.

Selalu Ada Pelangi Setelah Hujan, Bahkan Saat Lebaran
Si Mbah yang Seneng Didatangi Om dan Sepupu Saya

Sedih pasti iya, karena ingat dulu bagaimana sehat dan semangatnya si Mbah saat masih belum sakit begini. Apalagi saya adalah cucu yang sudah dibesarkan sejak usia 2 tahun. Mbah sudah seperti pengganti Ibu banget. Hingga saya berusia 25 tahun ini, Alhamdulillah Mbah masih menemani. Semoga panjang umur selalu ya, Mbah.

Lebaran yang Sederhana, Tapi Penuh Makna

Keluarga saya termasuk yang sederhana banget saat merayakan Lebaran. Nggak ada acara open house megah seperti yang bisa kamu temui di rumah lain. Hidangan Lebaran pun seadanya, nggak berlebihan seperti orang mau hajatan. Dan begitulah yang terjadi beberapa tahun belakangan ini, setelah Bapak β€˜pensiun’ keliling ke rumah saudara karena terkendala usia juga. Palingan kami cuma di rumah saja sambil menunggu tamu yang datang. Itu pun biasanya sepi di hari pertama dan kedua, sehingga Lebaran biasanya akan dilalui dengan ngobrol ringan sambil makan jajanan yang ada.

Alhamdulillah, tahun ini jadi Lebaran yang paling ramai di rumah dalam kurun 10 tahun terakhir. Satu per satu saudara datang menjelang Lebaran dan menginap di rumah. Termasuk Ibu saya juga yang tinggal di kota lain. Kalau biasanya Lebaran saya harus membagi waktu libur bersama keluarga di Malang lalu ke Blitar agar bisa menengok Ibu, kali ini ibu yang datang. Anak-anak Bapak dari nomor 1 hingga 5 pun berkumpul lengkap di rumah.

Kakak saya yang pertama tinggal di Serang, Banten. Sudah 5 tahun ini absen Lebaran di Malang karena pertimbangan anak-anaknya yang masih kecil belum bisa dibawa mudik perjalanan jauh. Tapi tahun ini Alhamdulillah bisa pulang ke Malang bersama istri dan anaknya. Tentu saja setelah melalui perjuangan arus mudik yang nggilani, terutama macet berjam-jam di Brebes yang epik itu.

Kakak saya yang kedua memang bekerja di luar kota, tapi untungnya nggak terlalu jauh dari Malang sehingga selalu Lebaran di rumah. Saya sendiri hingga usia seperempat abad belum pernah pergi jauh-jauh dari rumah, jadi belum pernah merasakan mudiknya Lebaran. Begitu pun dengan kedua adik saya yang masih tinggal di rumah orang tua. Hari raya tahun ini jadi terasa sangat lengkap.

Hal Kecil Yang Membuat Bahagia

Saya orang yang simpel sih. Hal kecil aja bisa bikin saya bahagia. Lebaran ini yang bikin bahagia adalah banyak anak kecil di rumah. Saya suka banget main sama anak kecil, ya biarpun kadang anak-anak banyak yang nggak mau deket saya sih, nggak tahu kenapa. Dua keponakan yang datang dari jauh ini bikin rumah jadi ramai. Ritual main hot wheels dan kereta bareng jadi hal yang saya nikmati banget.

Selalu Ada Pelangi Setelah Hujan, Bahkan Saat Lebaran
Kumpul bocah saat Lebaran, foto diambil oleh Arka, sepupu kecil saya yang berusia 6 tahun.

Ramainya Lebaran masih ditambah tante yang datang dari Kalimantan bersama keluarga kecilnya. Nambah lagi deh stok anak kecil di rumah dengan dua sepupu yang masih berumur 4 dan 6 tahun. Tujuannya memang menengok si Mbah, biarpun cuma beberapa hari aja. Tapi tetap terasa seru banget. Banyak cerita yang bisa dibagi. Rumah Bapak penuh sesak oleh suara anak kecil yang bermain. Saya pikir, begitulah kebahagiaan yang nggak melulu datang dari hal besar. Yang paling penting, si Mbah bercampur aduk dengan senyum bahagia dan tangis haru.

Hal-hal yang menyenangkan memang selalu bikin waktu berjalan terlalu cepat. Satu per satu personel pun kembali ke kota asal setelah Lebaran berlalu. Pesta sudah selesai, ya. Rumah kembali sepi. Masing-masing kembali beraktivitas seperti biasanya, larut dalam dunianya. Cerita Lebaran di keluarga saya memang bukan yang paling asyik sih. Tapi seenggaknya, ada hal yang bisa bikin saya mikir. Saya mau mengajak kamu buat mikir juga.

Selalu Ada Pelangi Setelah Hujan, Bahkan Saat Lebaran
Nisa, Ibu, dan cucunya yang baru berusia 6 bulan.

Keluarga adalah rumah yang paling sejati. Tempat pulang yang selalu ingin kamu tuju setelah lelah bermain di luar. Mungkin nggak ada keluarga yang sempurna. Tapi percayalah, orang-orang di rumah akan tetap menerima kamu apa adanya untuk kembali ke rumah. Karena apa? Karena kalian adalah keluarga.

Ada hal-hal yang terasa lebih seru dan menyenangkan kalau dilakukan bersama keluarga. Saya misalnya, termasuk salah satu orang yang nggak suka berada di tempat ramai terlalu lama bersama orang lain, meskipun itu teman sendiri. Saya lebih suka memilih nongkrong berjam-jam sama adik saya meskipun cuma minum kopi sambil selfie. Kalau kamu juga termasuk salah satu orang yang sama seperti saya, lebih suka menghabiskan waktu bersama keluarga dan punya saudara cewek yang seru, ikutan acara keren dari Diaryhijaber aja, yuk.

Selalu Ada Pelangi Setelah Hujan, Bahkan Saat Lebaran
Rayakan Hari Hijaber Nasional bareng Diaryhijaber, yuk!

Dalam rangka Hari Hijaber Nasional, Diaryhijaber bakal mengadakan acara seru pada 7-8 Agustus 2016 nanti. Bertempat di Masjid Sunda Kelapa, Menteng, Jakarta Pusat, event ini akan dimeriahkan oleh berbagai kegiatan seru buat para hijaber. Mulai dari fashion show, talkshow, tausiyah, lomba dengan hadiah menarik, hingga bazar. Nggak cuma itu, ada juga bintang tamu ngehits mulai dari Alyssa Soebandono, Dude Harlino, hingga Ustad Maulana.

Selain bisa meningkatkan wawasan dalam berhijab, kamu juga dapat mempererat silaturahmi dengan sesama hijaber, membangun networking, dan memperoleh inspirasi dari para bintang tamu. Sayang banget kan kalau kelewatan?

Lebaran memang selalu jadi momen yang membawa makna tersendiri buat masing-masing individu. Kalau kamu sendiri, apa makna Lebaran tahun ini bagi kamu?

13 thoughts on “Selalu Ada Pelangi Setelah Hujan, Apalagi Saat Lebaran

  1. “Saya pikir, begitulah kebahagiaan yang nggak melulu datang dari hal besar. ”

    setuju banget kak!
    banyak hal sederhana yang bahagianya itu berlipat ganda.
    :))

  2. makna lebaran harfiahnya lebar = selesai. Tapi bagiku abis lebaran harus tetep semangat beribadahnya sama kaya pas ramadan. Menjadi pribadi yang baik dan semakin baik. Btw boleh juga tuh kak acara hijabernya πŸ˜€

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *