Take Your Time

Take Your Time

Lucu deh rasanya kalau mengamati diri sendiri beberapa minggu belakangan ini. Seperti ada sesuatu yang salah, tapi nggak tahu kenapa. Kalau bahasa anak zaman sekarang sih mungkin istilahnya galau. Iya, saya lagi galau dengan diri sendiri.

Kalau saya bilang lagi nggak tahu kenapa, itu tandanya saya lagi bohong. Kalau nggak bohong sama kamu, ya membohongi diri sendiri. Menyangkal, maksudnya. Self therapy saya kalau lagi galau memang sebagian besar lewat penyangkalan. Berusaha meyakinkan diri kalau lagi baik-baik saja, berusaha menghibur diri dengan melakukan apa saja yang disukai— yang kebanyakan adalah hal bodoh dan childish. Lalu dalam bayangan, saya udah setegar batu karang, siap buat move on.

Nyatanya, belakangan ini jurus penyangkalan saya yang paling ampuh malah entah kenapa nggak bekerja sama sekali. Saya berada di titik di mana nggak tahu mesti melakukan apa. Kalau galau ada stadiumnya, mungkin yang saya alami sekarang ini sudah masuk tahap kritis yang nggak bisa ditolong lagi selain menggali akar permasalahannya. Masalahnya, saya tahu pasti, akar permasalahannya adalah sesuatu yang tidak bisa saya jangkau. Masalahnya terletak di dimensi berbeda yang tak bisa saya ajak kompromi untuk menyingkirkan kegalauan ini.

Meskipun saya nggak bisa mendefinisikan dengan baik apa yang sedang saya alami ini, tapi saya tahu kalau sesuatu yang besar sedang terjadi jauh di dalam diri saya sendiri. Setelah beberapa hari merenung sendiri, kesimpulan yang saya dapat cuma satu: saya mulai tidak nyaman dengan diri sendiri. Saya mulai jengah, dengan diri sendiri. Dan gimana kamu bisa berdamai dengan hatimu kalau kamu sendiri mulai muak dengannya?

Saya mulai jengah karena diri ini sering memiliki keinginan yang seharusnya tidak saya inginkan, atau perasaan yang seharusnya tidak saya rasakan. Mulai merasa bosan dengan penyangkalan demi penyangkalan yang sepertinya berhasil di awal, tapi malah bikin saya berantakan di akhir. Saya mulai bosan karena hati saya sendiri saja sulit untuk diajak berkompromi. Rasanya seperti dikhianati. Meskipun lama-lama saya merasa kalau hal itu manusiawi juga. Wajar kalau saya punya keinginan, yang nggak wajar adalah hal yang saya inginkan itu sendiri.

Jadi, karena saya sedang tidak nyaman dengan diri sendiri dan bosan dengan semua hal yang biasa dilakukan saat menyelesaikan masalah, kali ini saya mengambil cara yang berbeda. Saya memilih untuk menyendiri sambil berpikir apa yang sebenarnya benar-benar saya inginkan. Benar-benar sendirian, memutuskan untuk tidak menghubungi orang-orang yang biasa saya minta untuk menemani saat sedang galau berat. Memutuskan untuk tidak pergi ke tempat di mana biasanya saya butuh pelarian. Setelah bertahun-tahun terbiasa dengan hal yang sama, saya ingin break sejenak.

Take Your Time
Image: id.pinterest.com

Beberapa kali saya seperti mendapat jawaban dari fase sendirian ini. Tapi beberapa kali juga saya mengingatkan diri untuk tidak terburu-buru. Take your time, Wu, take your time. Kalau biasanya kata-kata itu saya ucapkan untuk orang lain, kali ini saya mengucapkannya untuk diri saya sendiri. Kalau kamu bisa menunggu orang lain dengan begitu sabarnya, kenapa kamu nggak bisa menunggu dirimu sendiri? Logikanya sesederhana itu sih.

Jadi, apa saya punya harapan tertentu setelah melewati fase break ini? Jelas ada. Semoga, semoga nanti saya tidak perlu memaksa diri untuk menyangkal lagi. Semoga nanti saya bisa lebih memahami setiap keinginan yang muncul dalam hati. Dan yang lebih penting, semoga nanti saya bisa berdamai dengan diri.

Baca Ini Juga Dong:

Tentang ‘Butterfly on Stomach’ dan Pandangan Mengenai Jatuh Cinta

Jadi Perempuan yang #MemesonaItu…

Tentang Menuntaskan Rindu dan Dendam Menjadi Satu

Ketika Tuhan Memiliki Rencana, Percayalah Kalau Itu yang Terbaik

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *