Tentang Momen yang Membuatmu Terluka

Tentang Momen yang Membuatmu Terluka

Sebagai salah satu pecinta drama Korea, dulu saya menganggap drama yang temanya medis dan kedokteran itu keren banget. Apalagi kalau sampai ada drama yang mampu memberikan gambaran nyaris sempurna saat sang dokter memberikan pertolongan pada pasiennya. Tapi itu dulu sih. Bukannya sekarang saya menganggap drama seperti itu jelek dan nggak berkualitas lagi. Tapi sejak Eyang meninggal, dan saya mendampingi di setiap prosesnya sampai Eyang dinyatakan nggak ada, drama-drama macem begitu cuma bikin saya inget momen-momen yang nggak enak.

Mungkin bisa dibilang semacam trauma kali ya, karena sejak saat itu saya benci rumah sakit, ambulans, dan sebangsanya. Termasuk kalau lagi nonton drama yang ada adegan tindakan medisnya, langsung saya skip. Secara otomatis memori saya langsung mengingat berbagai macam tindakan medis yang pernah diberikan dokter kepada Eyang mendekati saat-saat terakhirnya. Kan, nulis gini aja rasanya udah pengen mewek lagi…

Namanya juga hidup. Kamu bakalan menemukan berbagai momen jungkir balik selama prosesnya. Luka dan trauma yang dialami orang pun bisa bermacam-macam. Nggak cuma saat kehilangan orang yang disayang untuk selama-lamanya. Ada juga seseorang yang punya luka masa kecil karena perceraian kedua orang tuanya, bikin dia jadi insecure saat memilih pasangan hidup. Atau luka karena dikhianati sama sahabat yang sudah dipercaya sejak lama. Atau luka-luka lainnya, semisal saat putus sama pacar yang bikin kamu jadi nggak berani mendengarkan lagu tertentu, pergi ke tempat-tempat tertentu, atau melakukan hal tertentu, karena bisa membangkitkan kenangan tentang sang mantan. Kedengerannya receh sih. Tapi percaya deh, yang namanya luka, seperti apapun bentuknya, tetap aja rasanya sakit.

Tapi yang perlu kamu tahu, rasa sakit saat terluka itu mungkin bikin kamu terasa seperti nyaris mampus di dalam. Bikin kamu jadi kacau dan berantakan. Semuanya wajar dialami kok. Kamu nggak perlu sok baik-baik aja. Kalau sakit, ya bilang. Ya, meskipun nggak semua orang bisa mengekspresikan perasaannya dengan baik sih. Saya termasuk golongan orang-orang yang beruntung karena terlalu ekspresif. Saya nggak bisa kalau nggak cerita. Kalau pun nggak ada ‘tempat sampah’ buat cerita, seenggaknya saya masih bisa nulis. Jadi kalau kamu bukan golongan orang yang ekspresif, luapkan aja dalam bentuk lain. Caranya? Ya cuma kamu yang tahu, saya kan bukan ahli nujum yang tahu segalanya…

Setelah mengalami banyak momen jatuh bangun selama 26 tahun saya hidup, ada satu pelajaran sih yang bisa saya petik. Terluka memang sakit, tapi bukan berarti bikin kamu larut di dalamnya. Lukamu nggak bikin kamu jadi lemah. Lukamu juga nggak bakal membunuhmu. Justru terluka bikin kamu jadi lebih ‘manusia’. Karena dari terluka, kamu bisa jadi lebih peka terhadap orang lain. Kemampuan empati dan simpatimu jadi lebih meningkat. Jadi, kamu bisa lebih memahami mereka yang mungkin mengalami luka yang sama denganmu, tapi nggak tahu cara mengekspresikannya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *