Tidak Ada yang Terasa Baik-Baik Saja

tidak ada yang terasa baik-baik saja
Spread the love

Sudah sekitar 6 bulan ini saya merasa baik-baik saja, setelah mengalami momen emotionally breakdown saat akhir tahun lalu. Time will heal sepertinya jadi ungkapan yang tepat karena waktu memang membuat semua kembali baik-baik saja. Saya pun mulai menjalani hari dengan normal lagi sambil belajar masa bodoh terhadap hal-hal tertentu.

Naif mungkin jika berharap hidup akan terus baik kepada saya. Tapi nyatanya saya memang punya harapan, setidaknya tahun ini satu per satu yang direncanakan bisa terwujud sesuai harapan. Apa yang tertunda sejak lama bisa perlahan jadi kenyataan. Hal yang tidak pernah baik-baik saja jadi terasa tidak apa-apa. Apa mungkin terlalu berlebihan?

6 bulan ini memang jadi masa tenang, nggak selalu terasa menyenangkan memang, tapi at least saya tidak merasa sedih. Apalagi selama 3 bulan belakangan ini saya menjalani work from home karena efek pandemi. Saya lebih banyak di rumah dan punya waktu buat diri sendiri. Tapi, ternyata masa tenang ini nggak bertahan lama. Karena kenyataannya ada saja hal yang mengguncang. Lagi.

Satu hal yang mengganggu ketenangan ternyata bisa mempengaruhi banyak hal lain. Satu per satu emosi negatif mulai kembali memenuhi hati. Rasa khawatir jika apa yang disemogakan sejak lama harus lagi-lagi tertunda. Rasa takut jika harus menghadapi momen chaos yang sama.

Malam-malam yang belakangan terasa tenang, sekarang mulai diselipi perasaan takut sendirian dan kesepian. Kadang muncul rasa khawatir jika selama ini telah membuat keputusan yang salah. Kadang juga muncul pertanyaan apa sih yang salah sampai harus menghadapi kondisi yang sama berkali-kali. Di titik itu saya sadar, selama ini waktu tidak menyembuhkan apapun. Waktu hanya membuat saya lupa dan terlena. Karena masih ada keadaan yang belum selesai di sini. Masih ada hati yang perlu disembuhkan.

Di tiitik ini saya juga kembali memiliki satu pertanyaan besar. Jika semua itu terjadi lagi, jika saya mulai lelah lagi secara emosional, bisakah saya tetap mempertahankan kewarasan saya?

Karena diam-diam, saya pun merasa takut dan khawatir. Takut kembali lepas kendali karena menyalahkan keadaan. Atau parahnya kembali mencari pelarian yang salah seperti yang pernah saya lakukan sebelumnya. Pada akhirnya hanya menjadi sesuatu yang saya sesali seumur hidup. Payah!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *